Permandian Kaburaburana

Salah satu permandian air tawar yang terkenal dan relatif dekat dengan Kota Baubau Sulawesi Tenggara adalah Permandian Kaburaburana yang berjarak sekitar 20 km dari Kota Baubau atau tepatnya di Desa Lawela Selatan Kecamatan Batauga Kabupaten Buton Selatan. Untuk bisa mencapai permandian ini, kita dapat menggunakan kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua dari Kota Baubau yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 200 meter. Keunikan permandian ini adalah karena aliran airnya yang bening mengalir di atas bebatuan yang berundak membentuk tingkatan sebanyak tujuh tingkat. Kita dapat berendam dan merasakan sensasi guyuran air di setiap tingkatannya. Makanya tak heran penduduk sekitarnya menamakannya Kaburaburana yang berarti “Yang berbuih banyak.” Selain itu tempatnya sangat sejuk karena di sekelilingnya tertutupi oleh pepohonan yang cukup rimbun. Jika anda sempat berkunjung ke tempat ini, jangan lupa membawa bekal karena belum adanya fasilitas restoran di tempat ini. Berikut adalah foto-foto permandian Kaburaburana yang saya abadikan pada tanggal 16 Agustus 2017 kemarin.

 

Iklan
Sampingan | Posted on by | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Air Terjun Kandawudawuna

Selain dikenal sebagai pulau penghasil alam, Pulau Buton juga ternyata memiliki banyak lokasi air terjun. Salah satunya adalah air terjun Kandawu-dawuna. Air terjun ini berada lebih kurang 75 km dari Kota Baubau, tepatnya di daerah perbatasan Desa Waondo Wolio dan Desa Wakuli Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton. Untuk mencapai lokasi air terjun ini dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dari jalan poros kemudian memasuki jalan tani sekitar 10 menit dan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 20 menit melewati hutan yang masih rimbun. Selama memasuki hutan, petunjuk jalan yang digunakan kebanyakan orang hanyalah tanah yang rata dan bersih karena belum ada papan petunjuk jalan. Olehnya itu untuk mencapai air terjun ini sebaiknya ditemani oleh orang yang pernah memasukinya agar tidak tersesat.

Berikut adalah beberapa foto air terjun Kandawu-dawuna yang berhasil saya abadikan dalam perjalanan bersama beberapa kawan di awal Bulan Agustus 2017 kemarin.

 

 

Sampingan | Posted on by | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Kepingan Keindahan di Selatan Pulau Muna

Bagi para pencinta pesisir dan laut, wilayah selatan Pulau Muna kiranya patut dipertimbangkan untuk dikunjungi. Di wilayah ini ada begitu banyak keindahan yang bisa kita temukan dari darat hingga dasar perairannya. Untuk menjelajahi wilayah Selatan Pulau Muna, anda harus melalui jalan poros Wamengkoli – Mawasangka. Namun sampai saat tulisan ini dibuat, menurut pandangan kami, jalan poros ini merupakan salah satu ruas jalan raya di Kabupaten Buton yang cukup berat untuk dilalui. Selain karena jaraknya yang mencapai ± 80 km, juga karena medan jalannya yang tampil dengan rupa-rupa penampilan. Ada yang beraspal mulus, sekedar beraspal, aspalnya tidak rata, aspalnya berlubang, aspalnya menganga, bahkan ada bahagian jalan yg sudah tidak beraspal. Menjadi ironis karena selain ruas jalan ini merupakan ruas jalan provinsi yang menghubungkan Kendari dengan Kabupaten Buton dan Kota Baubau, juga Kabupaten Buton dikenal sebagai daerah yang memiliki kandungan aspal alam terbesar di Indonesia.

Beberapa bgian dari medan yang akan kita hadapi saat melintas dri Wamengkoli - Mawasangka

Beberapa bgian dari medan yang akan kita hadapi saat melintas dri Wamengkoli – Mawasangka

Namun di tengah penderitaan saat melalui jalan poros Wamengkoli – Mawasangka ini, kita masih bisa menemukan kepingan-kepingan keindahan yang bisa membuat kita melupakan betapa nyerinya tubuh akibat getaran kendaraan.

1. Teluk Lasongko
Pemandangan indah yang pertama dapat kita saksikan adalah pemandangan Teluk Lasongko, teluk terbesar yang ada di Kabupaten Buton dengan luas mencapai 13,6 km². Dari banyak tempat di ketinggian, kita dapat menyaksikan perairan yang berwarna hijau jernih dan biru berkilauan dengan dasar perairan yang terdiri dari terumbu dan pasir. Selain itu kita dapat melihat jejeran desa-desa pesisir dan pantai-pantai yang berpasir putih yang berada di sekeliling teluk. Jika mau sedikit meluangkan waktu, kita dapat singgah di desa-desa pesisirnya untuk menikmati deburan ombak dan pantai-pantai berpasir putih karena aksesnya yang mudah.

Pemandangan Teluk Lasongko dari beberapa tempat

Pemandangan Teluk Lasongko dari beberapa tempat

2. Aroma jambu mete
Saat memasuki Desa Teluk Lasongko hingga Desa Lolibu di Kecamatan Lakudo, hidung kita akan dimanjakan oleh aroma jambu mete yang dibakar. Wajar saja, di desa-desa yang berada di tepian Teluk Lasongko ini merupakan daerah penghasil jambu mete yang menyuplai kacang mete ke Kota Baubau dan Kota Kendari.

3. Teluk Lianabanggai
Pemandangan teluk ini akan menyapa kita saat memasuki Desa Langkomu, Kec. Mawasangka Tengah. Di teluk ini, selain kita dapat menikmati pemandangannya yang masih hijau dan kicauan berbagai macam burung, kita juga dapat berenang karena perairannya yang tenang dan jernih. Waktu dan tempat paling bagus menikmati pemandangan teluk ini adalah dari ketinggian Desa Lantongau di pagi hari saat matahari terbit dari balik teluk.

Pemandangan Teluk Lianabanggai

Pemandangan Teluk Lianabanggai

4. Kolam alam
Dalam perjalanan menuju ke Mawasangka, kita dapat pula menikmati kolam-kolam alam berair segar nan jernih yang mudah kita akses karena letaknya dekat dengan jalan raya. Beberapa diantaranya adalah Permandian Maobu di Desa Lalibo, Air Watorumbe di Desa Watorumbe, Air Lamunde di Desa Gundu-Gundu dan yang paling besar adalah Permandian Gumanano di Desa Gumanano. Tak ada pungutan alias gratis saat memasuki tempat-tempat ini. Sayangnya beberapa kolam alam ini selain digunakan untuk tempat mandi juga menjadi tempat mencuci masyarakat.

Secara berturut-turut, air maobu, air watorumbe dan jalan masuk ke air lamunde

Secara berturut-turut, air maobu, air watorumbe dan jalan masuk ke air lamunde

5. Endoke dan Babi hutan.
Jika beruntung, saat melintasi Desa Gundu-Gundu hingga Gumanano anda dapat menyaksikan kera Endoke atau Buton Macaque (Inggris) atau Macaca brunnescens (latin) dan dalam bahasa setempat disebut Andoke yang bergelayutan di tebing-tebing batu. Terkadang pula di tempat yang sama, anda akan berjumpa dengan babi hutan yang kadang kala berjalan berkelompok. Olehnya itu, berhati-hatilah saat melintasi jalanan disini karena kedua jenis hewan ini terkadang muncul tiba-tiba dari balik semak di kiri-kanan jalan.

6. Pantai berpasir putih
Pemandangan indah dari pantai-pantai berpasir putih juga akan turut menyapa mata kita saat dalam perjalanan. Pantai-pantai berpasir putih ini akan mudah kita temukan saat melintasi Desa Gumanano hingga Desa Kancebungi. Di Desa Kancebungi, selain kita dapat menikmati pantai, mata kita juga akan dimanjakan pemandangan Gunung Kabaena/Gunung Batu Sangia yang ketinggiannya mencapai 1100 mdpl.

Beberapa pemandangan yg akan menyapa kita saat memasuki Desa Gumanano dan Desa Kancebungi, Mawasangka

Beberapa pemandangan yg akan menyapa kita saat memasuki Desa Gumanano dan Desa Kancebungi, Mawasangka

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jalan-Jalan | Tag , , , , | 3 Komentar

Menikmati Sunset dari Keraton Buton

Galeri ini berisi 8 foto.

Selain keunikan arsitekturnya dan sejarah yang ada di dalamnya, kawasan benteng keraton buton juga dapat dijadikan salah satu alternatif untuk menyaksikan tenggelamnya matahari (sunset). Berikut adalah beberapa gambar sunset yang saya abadikan dari salah satu tempat di kawasan Benteng Keraton … Baca lebih lanjut

Galeri | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Kota Kendari dalam Gambar

Galeri ini berisi 22 foto.

Kota Kendari adalah sebuah kota di Sulawesi Tenggara yang terletak di seputaran Teluk Vosmaer (saat ini lebih dikenal dengan nama Teluk Kendari). Pada awalnya, kota ini dibangun dari sebuah kampung kecil bernama Kampung Kandai yang berada di sebelah utara mulut … Baca lebih lanjut

Galeri | Tag , , , , | 1 Komentar

Kepingan Keindahan Alam Pulau Buton & Sekitarnya

Galeri ini berisi 20 foto.

Berikut adalah foto-foto dari lingkungan Pulau Buton dan sekitarnya yang saya abadikan dalam beberapa kesempatan. Semoga mengingatkan kita untuk selalu menjaga keberlangsungan dan kelestariannya.

Galeri | Tag , , , | 14 Komentar

Meluasnya Keracunan Biota Laut di Sulawesi Tenggara : Cermin Ketidakterpaduan dan Kelambanan Penanganan

fenomena red tide yang dapat mematikan biota laut dalam jumlah massal dan juga keracunan bagi manusia yang mengkonsumsi biota yang terkontaminasi (sumber foto klik gambar)

Fenomena banyaknya keracunan setelah mengkonsumsi biota laut khususnya ikan dan kerang yang dialami oleh warga Kota Baubau pada Bulan Juni lalu ternyata tidak hanya dialami oleh warga Kota Baubau. Media-media lokal Sulawesi Tenggara telah melaporkan kejadian yang serupa juga dialami oleh warga-warga daerah lain yang mengkonsumsi ikan dan kerang di wilayah Sulawesi Tenggara. Kejadian ini sudah terjadi sejak Bulan Mei sampai Bulan Juli 2010 dengan wilayah jatuhnya korban yang dilaporkan begitu luas meliputi Kabupaten Muna (Kec. Maginti dan Kec. Napabalano), Kabupaten Buton (Kec. Gu, Lakudo, Pasarwajo dan Lasalimu), Kota Bau-Bau dan sebagian pesisir Buton Utara serta sudah menimbulkan beberapa orang korban meninggal dunia. Patut diingat bahwa ini adalah data yang bersumber dari laporan media-media online karena belum ada data resmi yang dikeluarkan oleh instansi terkait sehubungan dengan jumlah dan wilayah jatuhnya korban akibat keracunan setelah mengkonsumsi hewan laut. Jadi kemungkinan wilayah dan jumlah korban lebih luas dan banyak dari yang kami tuliskan daftarnya di bawah ini.

  1. Kejadian yang sudah berlangsung sejak Bulan Mei namun baru dilaporkan  Tanggal  22 Juni 2010.  Lokasi : Desa Moko, Mone, Lolibu dan Wajo Gu. Jumlah Korban : Hampir semua masyarakat di Desa Moko, Mone, Lolibu dan Wajo Gu dengan korban meninggal 2 orang. Penyebabnya : Setelah makan ikan dan kerang-kerangan yang ditangkap di sekitar Teluk Lasongko. Gejala yang dialami : mual dan muntah. Berita lengkapnya lihat di sini
  2. Kejadian tanggal 18 Juni 2010. Lokasi : Desa Gala Kecamatan Maginti, Muna. Jumlah Korban : 5 orang dengan kondisi 4 orang berhasil diselamatkan dan 1 orang meninggal dunia. Penyebabnya : Setelah makan kerang laut yang diambil dari laut. Gejala yang dialami : Muntah-muntah. Berita lengkapnya lihat disini
  3. Kejadian Tanggal 27 Juni 2010. Lokasi : Kecamatan Mataoleo, Bombana. Jumlah korban : 2 orang dengan kondisi dapat diselamatkan. Penyebabnya : Setelah makan ikan cakalang hasil tangkapan sendiri. Gejala yang dialami : mual, muntah dan sakit kepala. Berita lengkapnya lihat disini
  4. Kejadian Tanggal 27 Juni 2010. Lokasi : Kota Baubau. Jumlah korban : 6 orang dengan kondisi selamat. Penyebabnya : Setelah makan siput yang dibeli di pasar wameo. Gejala yang dialami : kejang pada bagian lidah dan tubuh serta muntah-muntah. Berita lengkapnya lihat di sini
  5. Laporan dari Puskesmas Wajo Kota Baubau selama Bulan Juni 2010. Jumlah korban : 20 orang dengan kondisi selamat. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi kerang dan ikan. Gejalayang dialami : mengalami gejala muntah-muntah, keram dan tingkat kesadaran menurun. Berita lengkapnya lihat di sini.
  6. Kejadian yang dilaporkan tanggal 9 Juli 2010. Lokasi : Kelurahan Kadolomoko Kota Baubau. Jumlah korban : 1 orang dengan kondisi selamat. Gejala yang dialami : keram dan mual. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan. Berita lengkapnya lihat di sini
  7. Kejadian Tanggal 11 Juli 2010. Lokasi : Kota Baubau. Jumlah Korban : 5 orang selamat. Gejala yang dialami : penglihatan kabur, kejang-kejang dan mual-mual. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan dari pasar sehat wameo. Berita lengkapnya lihat di sini
  8. Kejadian sekitar Tanggal 16 Juli 2010. Lokasi : Pulau Batu Atas, Kabupaten Buton. Jumlah : 2 orang meninggal dunia. Gejala yang dialami : tidak dilaporkan. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan. Berita lengkapnya lihat di sini.
  9. Kejadian Tanggal 19 Juli 2010. Lokasi : Kec. Sampolawa Kab. Buton. Jumlah Korban : 3 orang dengan kondisi selamat. Gejala yang dialami : kondisi tubuh lemas. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan cakalang. Berita lengkapnya lihat di sini
  10. Kejadian Tanggal 24 Juli 2010. Lokasi : Desa Lakapera Kec. Gu, Buton. Jumlah Korban : 5 orang dengan kondisi 3 orang selamat dan 2 orang meninggal dunia. Gejala yang dialami : mual-mual dan buang air terus menerus. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi kerang yang diambil dari Teluk Lasongko. Berita lengkapnya lihat di sini
  11. Kejadian yang dilaporkan tanggal 28 Juli 2010. Lokasi : Kec. Lasalimu Kab. Buton. Jumlah korban : 4 orang dengan kondisi selamat. Gejala yang dialami : tidak dilaporkan. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan dan kerang. Berita lengkapnya lihat di sini
  12. Kejadian Tanggal 30 Juli 2010. Lokasi : Kel. Kombeli, Takimpo dan Laburunci, Pasarwajo, Buton. Jumlah Korban : Kombeli 4 orang, Takimpo 2 orang dan Laburunci 4 orang. Gejala yang dialami : mual, pusing dan sakit kepala. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi ikan yang di beli di Pasar Ompu Kelurahan Kombeli. Berita lengkapnya lihat di sini
  13. Selama Bulan Juli 2010. Lokasi : Kel. Tampo, Napabalano, Muna. Jumlah Korban : Belum ada laporan resmi. Gejala yang dialami : muntah-muntah, mual dan pusing. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi ikan yang ditangkap oleh nelayan. Berita lengkapnya lihat di sini.
  14. Kejadian yang dilaporkan Tanggal 2 Agustus 2010. Lokasi : Buton Utara. Jumlah Korban : Beberapa orang. Gejala yang dialami : pusing-pusing, muntah dan mata merah. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi ikan. Berita lengkapnya lihat di sini
  15. Laporan korban dari RSUD Kota Baubau selama Juni-Juli 2010. Jumlah Korban : Juni 13 Orang dan Juli, 23 orang yg mana semuanya selamat. Penyebabnya : keracunan setelah mengkonsumsi hewan laut jenis ikan dan kerang. Berita lengkapnya lihat di sini

Sayangnya meski terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, telah menimbulkan banyak korban (meninggal dunia, trauma dan kerugian material akibat menurunnya tingkat penjualan ikan dan kerang) dan terjadi dalam wilayah yang luas dalam lingkup Provinsi Sulawesi Tenggara, kasus keracunan setelah mengkonsumsi hewan laut ini tidak ditangani secara terpadu dan terkesan lambat. Ketidakterpaduan  ditunjukkan oleh tidak adanya koordinasi antar unit kerja dalam satu daerah dan antar unit kerja satu daerah dengan daerah yang lain yang menangani kelautan, perikanan, kesehatan dan pencemaran. Padahal waktu kejadian antar daerah yang satu dengan yang lain relatif berdekatan dengan penyebab dan gejala yang dialami korban keracunan relatif sama yakni disebabkan oleh ikan dan kerang dengan gejala mual, muntah-muntah dan pusing. Sedangkan kelambanan ditunjukkan oleh adanya penyelidikan dengan hanya mengirimkan  sampel yang diduga mengandung racun ke instansi yang memiliki peralatan penelitian seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kendari yang kebetulan peralatannya rusak (Lihat di sini dan di sini) . Padahal tidak menutup kemungkinan adanya zat beracun dalam tubuh hewan laut diakibatkan oleh penurunan kualitas lingkungan perairan seperti adanya pencemaran limbah berbahaya atau munculnya fenomena Harmful Algae Blooms (HABs)/Ledakan Alga Berbahaya (LAB)/red tide yakni  fenomena adanya ledakan populasi dari alga plankton mikroskopik (dalam bentuk fitoplankton, bukan zooplankton) yang bersifat racun yang kemudian dikonsumsi oleh ikan dan kerang. Apalagi ada laporan kejadian kematian ikan secara massal di perairan yang warganya mengalami keracunan (perairan Pulau  Kadatua dan Teluk Lasongko Kab. Buton dan perairan Kadolomoko Kota Baubau) tanpa diketahui penyebabnya yang merupakan salah satu akibat dari kemunculan LAB/red tide.  Sehingga penelitian seharusnya tidak hanya difokuskan kepada biota penyebab keracunan tetapi juga kualitas air suatu perairan seperti oksigen terlarut, kandungan logam berat, pertumbuhan fitoplankton berbahaya dan faktor kualitas air lainnya.

Ikan-ikan yang mati secara massal yang diduga akibat fenomena red tide (sumber foto klik gambar)

Ketidakterpaduan dan kelambanan penanganan ini tentu dapatberakibat buruk bagi masyarakat mengingat sifat laut dan biota di dalamnya serta rantai perdagangan hasil laut begitu dinamis dan tidak mengenal batas-batas administratif sehingga jika memang ada bahan pencemar atau bahan berbahaya yang berasal dari laut dan biota di dalamnya maka akan mudah berpindah dari satu daerah ke daerah lain yang kemudian akan dikonsumsi oleh manusia.

Kelambanan dan ketidakterpaduan penanganan kasus keracunan setelah mengkonsumsi hasil laut dalam lingkup Provinsi Sulawesi Tenggara kemudian berimbas pada sumirnya penyebab utama kenapa hasil laut yang seharusnya aman untuk dikonsumsi menjadi berbahaya bagi manusia. Padahal informasi tentang penyebab utama ini penting untuk membangun strategi pencegahan dan pengendalian munculnya kasus serupa di masa mendatang. Memang Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kendari sebagai badan yang memiliki kewenangan menyelidiki kandungan racun dalam bahan makanan telah mendapatkan adanya logam berat berupa Cu (tembaga) dalam tubuh sampel kerang yang dikirimkan oleh Dinas Kesehatan Kota Baubau dan menduga adanya arsen dan sianida  dalam sampel tersebut (Lihat di sini). Namun hasil analisis tersebut tidak serta merta dapat dijadikan sebagai kesimpulan penyebab utama timbulnya kejadian-kejadian keracunan di Sulawesi Tenggara. Sebab dari hasil analisis tersebut, pihak BPOM juga belum bisa memastikan bahwa kandungan tembagalah yang menyebabkan terjadinya keracunan karena perlu adanya penelitian pada semua makanan dan air minum yang dikonsumsi oleh korban. Kemudian juga adanya arsen serta sianida pada sampel yang dikirim oleh Dinkes Baubau juga masih sebatas dugaan. Juga hasil analisis tersebut sebatas pada sampel kerang yang dikirimkan oleh Dinas Kesehatan Kota Baubau sehingga tidak bisa mewakili penyebab kejadian-kejadian keracunan yang banyak terjadi di daerah lain di Sulawesi Tenggara.

Jadi seyogyanya instansi-instansi yang menangani urusan laut, ikan, kesehatan dan pencemaran di Sulawesi Tenggara harus bekerja lebih cepat, terpadu dan terkoordinasi agar masyarakat tidak berlarut-larut dalam kecemasan saat akan mengkonsumsi hasil laut  yang merupakan santapan favorit di daerah Sulawesi Tenggara. Juga untuk menyelamatkan kaum nelayan yang kian terjepit oleh kebutuhan hidup akibat menurunnya pendapatan setelah merebaknya kasus keracunan dan naiknya harga-harga bahan pokok.

Wassalam

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , , | 7 Komentar