Kepingan Keindahan di Selatan Pulau Muna

Bagi para pencinta pesisir dan laut, wilayah selatan Pulau Muna kiranya patut dipertimbangkan untuk dikunjungi. Di wilayah ini ada begitu banyak keindahan yang bisa kita temukan dari darat hingga dasar perairannya. Untuk menjelajahi wilayah Selatan Pulau Muna, anda harus melalui jalan poros Wamengkoli – Mawasangka. Namun sampai saat tulisan ini dibuat, menurut pandangan kami, jalan poros ini merupakan salah satu ruas jalan raya di Kabupaten Buton yang cukup berat untuk dilalui. Selain karena jaraknya yang mencapai ± 80 km, juga karena medan jalannya yang tampil dengan rupa-rupa penampilan. Ada yang beraspal mulus, sekedar beraspal, aspalnya tidak rata, aspalnya berlubang, aspalnya menganga, bahkan ada bahagian jalan yg sudah tidak beraspal. Menjadi ironis karena selain ruas jalan ini merupakan ruas jalan provinsi yang menghubungkan Kendari dengan Kabupaten Buton dan Kota Baubau, juga Kabupaten Buton dikenal sebagai daerah yang memiliki kandungan aspal alam terbesar di Indonesia.

Beberapa bgian dari medan yang akan kita hadapi saat melintas dri Wamengkoli - Mawasangka

Beberapa bgian dari medan yang akan kita hadapi saat melintas dri Wamengkoli – Mawasangka

Namun di tengah penderitaan saat melalui jalan poros Wamengkoli – Mawasangka ini, kita masih bisa menemukan kepingan-kepingan keindahan yang bisa membuat kita melupakan betapa nyerinya tubuh akibat getaran kendaraan.

1. Teluk Lasongko
Pemandangan indah yang pertama dapat kita saksikan adalah pemandangan Teluk Lasongko, teluk terbesar yang ada di Kabupaten Buton dengan luas mencapai 13,6 km². Dari banyak tempat di ketinggian, kita dapat menyaksikan perairan yang berwarna hijau jernih dan biru berkilauan dengan dasar perairan yang terdiri dari terumbu dan pasir. Selain itu kita dapat melihat jejeran desa-desa pesisir dan pantai-pantai yang berpasir putih yang berada di sekeliling teluk. Jika mau sedikit meluangkan waktu, kita dapat singgah di desa-desa pesisirnya untuk menikmati deburan ombak dan pantai-pantai berpasir putih karena aksesnya yang mudah.

Pemandangan Teluk Lasongko dari beberapa tempat

Pemandangan Teluk Lasongko dari beberapa tempat

2. Aroma jambu mete
Saat memasuki Desa Teluk Lasongko hingga Desa Lolibu di Kecamatan Lakudo, hidung kita akan dimanjakan oleh aroma jambu mete yang dibakar. Wajar saja, di desa-desa yang berada di tepian Teluk Lasongko ini merupakan daerah penghasil jambu mete yang menyuplai kacang mete ke Kota Baubau dan Kota Kendari.

3. Teluk Lianabanggai
Pemandangan teluk ini akan menyapa kita saat memasuki Desa Langkomu, Kec. Mawasangka Tengah. Di teluk ini, selain kita dapat menikmati pemandangannya yang masih hijau dan kicauan berbagai macam burung, kita juga dapat berenang karena perairannya yang tenang dan jernih. Waktu dan tempat paling bagus menikmati pemandangan teluk ini adalah dari ketinggian Desa Lantongau di pagi hari saat matahari terbit dari balik teluk.

Pemandangan Teluk Lianabanggai

Pemandangan Teluk Lianabanggai

4. Kolam alam
Dalam perjalanan menuju ke Mawasangka, kita dapat pula menikmati kolam-kolam alam berair segar nan jernih yang mudah kita akses karena letaknya dekat dengan jalan raya. Beberapa diantaranya adalah Permandian Maobu di Desa Lalibo, Air Watorumbe di Desa Watorumbe, Air Lamunde di Desa Gundu-Gundu dan yang paling besar adalah Permandian Gumanano di Desa Gumanano. Tak ada pungutan alias gratis saat memasuki tempat-tempat ini. Sayangnya beberapa kolam alam ini selain digunakan untuk tempat mandi juga menjadi tempat mencuci masyarakat.

Secara berturut-turut, air maobu, air watorumbe dan jalan masuk ke air lamunde

Secara berturut-turut, air maobu, air watorumbe dan jalan masuk ke air lamunde

5. Endoke dan Babi hutan.
Jika beruntung, saat melintasi Desa Gundu-Gundu hingga Gumanano anda dapat menyaksikan kera Endoke atau Buton Macaque (Inggris) atau Macaca brunnescens (latin) dan dalam bahasa setempat disebut Andoke yang bergelayutan di tebing-tebing batu. Terkadang pula di tempat yang sama, anda akan berjumpa dengan babi hutan yang kadang kala berjalan berkelompok. Olehnya itu, berhati-hatilah saat melintasi jalanan disini karena kedua jenis hewan ini terkadang muncul tiba-tiba dari balik semak di kiri-kanan jalan.

6. Pantai berpasir putih
Pemandangan indah dari pantai-pantai berpasir putih juga akan turut menyapa mata kita saat dalam perjalanan. Pantai-pantai berpasir putih ini akan mudah kita temukan saat melintasi Desa Gumanano hingga Desa Kancebungi. Di Desa Kancebungi, selain kita dapat menikmati pantai, mata kita juga akan dimanjakan pemandangan Gunung Kabaena/Gunung Batu Sangia yang ketinggiannya mencapai 1100 mdpl.

Beberapa pemandangan yg akan menyapa kita saat memasuki Desa Gumanano dan Desa Kancebungi, Mawasangka

Beberapa pemandangan yg akan menyapa kita saat memasuki Desa Gumanano dan Desa Kancebungi, Mawasangka

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jalan-Jalan | Tag , , , , | 3 Komentar

Menikmati Sunset dari Keraton Buton

Selain keunikan arsitekturnya dan sejarah yang ada di dalamnya, kawasan benteng keraton buton juga dapat dijadikan salah satu alternatif untuk menyaksikan tenggelamnya matahari (sunset). Berikut adalah beberapa gambar sunset yang saya abadikan dari salah satu tempat di kawasan Benteng Keraton Buton yakni Lawana Gundu-Gundu pada tanggal 22 Juli tahun 2011 kemarin.

Pukul 17.52

Pukul 17.53

Masih Pukul 17.53

Pukul 17.54

Masih Pukul 17.54

Pukul 17.55

Masih Pukul 17.55

Dipublikasi di Jalan-Jalan | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Kota Kendari dalam Gambar

Kota Kendari adalah sebuah kota di Sulawesi Tenggara yang terletak di seputaran Teluk Vosmaer (saat ini lebih dikenal dengan nama Teluk Kendari). Pada awalnya, kota ini dibangun dari sebuah kampung kecil bernama Kampung Kandai yang berada di sebelah utara mulut Teluk Kendari (saat ini disebut kawasan kota lama) oleh seorang pria berkebangsaan Belanda bernama J.N. Vosmaers yang mengunjungi Teluk Kendari pada tanggal 9 Mei 1831 (tanggal ini kemudian diperingati sebagai Hari Jadi Kota Kendari). Sejak kedatangan Vosmaers, keadaan Kampung Kandai yang pada mulanya hanya merupakan pemukiman para pedagang Bugis dan Bajo mulai banyak berubah. Atas kuasa yang diberikan oleh Gubernur Hindia Belanda, J.N. Vosmaers kemudian melakukan banyak pembangunan infrastruktur untuk menjadikan Kandai sebagai salah satu kota pelabuhan yang penting di pantai timur Pulau Sulawesi seperti mendirikan lodge (kantor dagang), istana raja, jalan, pelabuhan, pasar, rumah ibadah dan sarana lainnya di atas bukit Kampung Kandai yang menjadi cikal bakal tumbuhnya Kota Kendari.

Seiring dengan perjalanan waktu, kian banyak penduduk yang datang bermukim di daerah-daerah seputaran Teluk Kendari sehingga menambah jumlah perkampungan-perkampungan baru yang dibangun ke arah barat dari Kampung Kandai . Pertambahan penduduk dan wilayah pemukimannya ini kemudian menjadikan Kendari di masa Pemerintahan kolonial Belanda merupakan ibukota kewedanaan dan ibukota onder Afdeling Laiwoi yang luas wilayahnya pada masa itu kurang lebih 31.420 km2. Sejalan dengan dinamika perkembangan sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan laut antar pulau, maka Kendari terus tumbuh menjadi ibukota kabupaten dan masuk dalam wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Dengan keluarnya Undang-Undang nomor 13 tahun 1964 terbentuklah Provinsi Sulawesi Tenggara dan Kendari ditetapkan sebagai ibukota provinsi yang terdiri dari 2 (dua) wilayah Kecamatan yakni Kecamatan Kendari dan Kecamatan Mandonga dengan luas wilayah 76.760 km2. Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 1978, Kendari ditetapkan menjadi Kota Administratif yang meliputi 3 (tiga) wilayah Kecamatan dengan luas wilayah 187.990  km2 yang meliputi Kecamatan Kendari, Kecamatan Mandonga dan Kecamatan Poasia. Seiring dengan dinamika penduduk dan pembangunan, Kota Kendari saat ini telah mempunyai 10 (sepuluh) wilayah kecamatan dan 64 kelurahan dengan luas wilayah yang telah mencapai 295.89 km2.

Ke depannya, entah perubahan apalagi yang akan dialami oleh kota ini. Namun yang pasti, Kota Kendari saat ini terus bergerak melengkapi dirinya sebagai salah satu kota yang maju di Indonesia.

Berikut adalah foto-foto beberapa sudut Kota Kendari yang saya abadikan dalam beberapa kesempatan.

   

           

          

 

* Sumber Tulisan :

– Makalah Dari Kota Kolonial Ke Kota Niaga :Sejarah Kota Kendari Abd XIX-XX oleh    Muhammad Said D. pada Konferensi Sejarah Nasional VIII

– Artikel Profil – Sejarah Kota Kendari dalam http://www.kendarikota.go.id

Dipublikasi di Jalan-Jalan | Tag , , | 1 Komentar

Kepingan Keindahan Alam Pulau Buton & Sekitarnya

Galeri ini berisi 20 foto.

Berikut adalah foto-foto dari lingkungan Pulau Buton dan sekitarnya yang saya abadikan dalam beberapa kesempatan. Semoga mengingatkan kita untuk selalu menjaga keberlangsungan dan kelestariannya.

Galeri | Tag , , , | 13 Komentar

Meluasnya Keracunan Biota Laut di Sulawesi Tenggara : Cermin Ketidakterpaduan dan Kelambanan Penanganan

fenomena red tide yang dapat mematikan biota laut dalam jumlah massal dan juga keracunan bagi manusia yang mengkonsumsi biota yang terkontaminasi (sumber foto klik gambar)

Fenomena banyaknya keracunan setelah mengkonsumsi biota laut khususnya ikan dan kerang yang dialami oleh warga Kota Baubau pada Bulan Juni lalu ternyata tidak hanya dialami oleh warga Kota Baubau. Media-media lokal Sulawesi Tenggara telah melaporkan kejadian yang serupa juga dialami oleh warga-warga daerah lain yang mengkonsumsi ikan dan kerang di wilayah Sulawesi Tenggara. Kejadian ini sudah terjadi sejak Bulan Mei sampai Bulan Juli 2010 dengan wilayah jatuhnya korban yang dilaporkan begitu luas meliputi Kabupaten Muna (Kec. Maginti dan Kec. Napabalano), Kabupaten Buton (Kec. Gu, Lakudo, Pasarwajo dan Lasalimu), Kota Bau-Bau dan sebagian pesisir Buton Utara serta sudah menimbulkan beberapa orang korban meninggal dunia. Patut diingat bahwa ini adalah data yang bersumber dari laporan media-media online karena belum ada data resmi yang dikeluarkan oleh instansi terkait sehubungan dengan jumlah dan wilayah jatuhnya korban akibat keracunan setelah mengkonsumsi hewan laut. Jadi kemungkinan wilayah dan jumlah korban lebih luas dan banyak dari yang kami tuliskan daftarnya di bawah ini.

  1. Kejadian yang sudah berlangsung sejak Bulan Mei namun baru dilaporkan  Tanggal  22 Juni 2010.  Lokasi : Desa Moko, Mone, Lolibu dan Wajo Gu. Jumlah Korban : Hampir semua masyarakat di Desa Moko, Mone, Lolibu dan Wajo Gu dengan korban meninggal 2 orang. Penyebabnya : Setelah makan ikan dan kerang-kerangan yang ditangkap di sekitar Teluk Lasongko. Gejala yang dialami : mual dan muntah. Berita lengkapnya lihat di sini
  2. Kejadian tanggal 18 Juni 2010. Lokasi : Desa Gala Kecamatan Maginti, Muna. Jumlah Korban : 5 orang dengan kondisi 4 orang berhasil diselamatkan dan 1 orang meninggal dunia. Penyebabnya : Setelah makan kerang laut yang diambil dari laut. Gejala yang dialami : Muntah-muntah. Berita lengkapnya lihat disini
  3. Kejadian Tanggal 27 Juni 2010. Lokasi : Kecamatan Mataoleo, Bombana. Jumlah korban : 2 orang dengan kondisi dapat diselamatkan. Penyebabnya : Setelah makan ikan cakalang hasil tangkapan sendiri. Gejala yang dialami : mual, muntah dan sakit kepala. Berita lengkapnya lihat disini
  4. Kejadian Tanggal 27 Juni 2010. Lokasi : Kota Baubau. Jumlah korban : 6 orang dengan kondisi selamat. Penyebabnya : Setelah makan siput yang dibeli di pasar wameo. Gejala yang dialami : kejang pada bagian lidah dan tubuh serta muntah-muntah. Berita lengkapnya lihat di sini
  5. Laporan dari Puskesmas Wajo Kota Baubau selama Bulan Juni 2010. Jumlah korban : 20 orang dengan kondisi selamat. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi kerang dan ikan. Gejalayang dialami : mengalami gejala muntah-muntah, keram dan tingkat kesadaran menurun. Berita lengkapnya lihat di sini.
  6. Kejadian yang dilaporkan tanggal 9 Juli 2010. Lokasi : Kelurahan Kadolomoko Kota Baubau. Jumlah korban : 1 orang dengan kondisi selamat. Gejala yang dialami : keram dan mual. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan. Berita lengkapnya lihat di sini
  7. Kejadian Tanggal 11 Juli 2010. Lokasi : Kota Baubau. Jumlah Korban : 5 orang selamat. Gejala yang dialami : penglihatan kabur, kejang-kejang dan mual-mual. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan dari pasar sehat wameo. Berita lengkapnya lihat di sini
  8. Kejadian sekitar Tanggal 16 Juli 2010. Lokasi : Pulau Batu Atas, Kabupaten Buton. Jumlah : 2 orang meninggal dunia. Gejala yang dialami : tidak dilaporkan. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan. Berita lengkapnya lihat di sini.
  9. Kejadian Tanggal 19 Juli 2010. Lokasi : Kec. Sampolawa Kab. Buton. Jumlah Korban : 3 orang dengan kondisi selamat. Gejala yang dialami : kondisi tubuh lemas. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan cakalang. Berita lengkapnya lihat di sini
  10. Kejadian Tanggal 24 Juli 2010. Lokasi : Desa Lakapera Kec. Gu, Buton. Jumlah Korban : 5 orang dengan kondisi 3 orang selamat dan 2 orang meninggal dunia. Gejala yang dialami : mual-mual dan buang air terus menerus. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi kerang yang diambil dari Teluk Lasongko. Berita lengkapnya lihat di sini
  11. Kejadian yang dilaporkan tanggal 28 Juli 2010. Lokasi : Kec. Lasalimu Kab. Buton. Jumlah korban : 4 orang dengan kondisi selamat. Gejala yang dialami : tidak dilaporkan. Penyebabnya : setelah mengkonsumsi ikan dan kerang. Berita lengkapnya lihat di sini
  12. Kejadian Tanggal 30 Juli 2010. Lokasi : Kel. Kombeli, Takimpo dan Laburunci, Pasarwajo, Buton. Jumlah Korban : Kombeli 4 orang, Takimpo 2 orang dan Laburunci 4 orang. Gejala yang dialami : mual, pusing dan sakit kepala. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi ikan yang di beli di Pasar Ompu Kelurahan Kombeli. Berita lengkapnya lihat di sini
  13. Selama Bulan Juli 2010. Lokasi : Kel. Tampo, Napabalano, Muna. Jumlah Korban : Belum ada laporan resmi. Gejala yang dialami : muntah-muntah, mual dan pusing. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi ikan yang ditangkap oleh nelayan. Berita lengkapnya lihat di sini.
  14. Kejadian yang dilaporkan Tanggal 2 Agustus 2010. Lokasi : Buton Utara. Jumlah Korban : Beberapa orang. Gejala yang dialami : pusing-pusing, muntah dan mata merah. Penyebabnya : Setelah mengkonsumsi ikan. Berita lengkapnya lihat di sini
  15. Laporan korban dari RSUD Kota Baubau selama Juni-Juli 2010. Jumlah Korban : Juni 13 Orang dan Juli, 23 orang yg mana semuanya selamat. Penyebabnya : keracunan setelah mengkonsumsi hewan laut jenis ikan dan kerang. Berita lengkapnya lihat di sini

Sayangnya meski terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, telah menimbulkan banyak korban (meninggal dunia, trauma dan kerugian material akibat menurunnya tingkat penjualan ikan dan kerang) dan terjadi dalam wilayah yang luas dalam lingkup Provinsi Sulawesi Tenggara, kasus keracunan setelah mengkonsumsi hewan laut ini tidak ditangani secara terpadu dan terkesan lambat. Ketidakterpaduan  ditunjukkan oleh tidak adanya koordinasi antar unit kerja dalam satu daerah dan antar unit kerja satu daerah dengan daerah yang lain yang menangani kelautan, perikanan, kesehatan dan pencemaran. Padahal waktu kejadian antar daerah yang satu dengan yang lain relatif berdekatan dengan penyebab dan gejala yang dialami korban keracunan relatif sama yakni disebabkan oleh ikan dan kerang dengan gejala mual, muntah-muntah dan pusing. Sedangkan kelambanan ditunjukkan oleh adanya penyelidikan dengan hanya mengirimkan  sampel yang diduga mengandung racun ke instansi yang memiliki peralatan penelitian seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kendari yang kebetulan peralatannya rusak (Lihat di sini dan di sini) . Padahal tidak menutup kemungkinan adanya zat beracun dalam tubuh hewan laut diakibatkan oleh penurunan kualitas lingkungan perairan seperti adanya pencemaran limbah berbahaya atau munculnya fenomena Harmful Algae Blooms (HABs)/Ledakan Alga Berbahaya (LAB)/red tide yakni  fenomena adanya ledakan populasi dari alga plankton mikroskopik (dalam bentuk fitoplankton, bukan zooplankton) yang bersifat racun yang kemudian dikonsumsi oleh ikan dan kerang. Apalagi ada laporan kejadian kematian ikan secara massal di perairan yang warganya mengalami keracunan (perairan Pulau  Kadatua dan Teluk Lasongko Kab. Buton dan perairan Kadolomoko Kota Baubau) tanpa diketahui penyebabnya yang merupakan salah satu akibat dari kemunculan LAB/red tide.  Sehingga penelitian seharusnya tidak hanya difokuskan kepada biota penyebab keracunan tetapi juga kualitas air suatu perairan seperti oksigen terlarut, kandungan logam berat, pertumbuhan fitoplankton berbahaya dan faktor kualitas air lainnya.

Ikan-ikan yang mati secara massal yang diduga akibat fenomena red tide (sumber foto klik gambar)

Ketidakterpaduan dan kelambanan penanganan ini tentu dapatberakibat buruk bagi masyarakat mengingat sifat laut dan biota di dalamnya serta rantai perdagangan hasil laut begitu dinamis dan tidak mengenal batas-batas administratif sehingga jika memang ada bahan pencemar atau bahan berbahaya yang berasal dari laut dan biota di dalamnya maka akan mudah berpindah dari satu daerah ke daerah lain yang kemudian akan dikonsumsi oleh manusia.

Kelambanan dan ketidakterpaduan penanganan kasus keracunan setelah mengkonsumsi hasil laut dalam lingkup Provinsi Sulawesi Tenggara kemudian berimbas pada sumirnya penyebab utama kenapa hasil laut yang seharusnya aman untuk dikonsumsi menjadi berbahaya bagi manusia. Padahal informasi tentang penyebab utama ini penting untuk membangun strategi pencegahan dan pengendalian munculnya kasus serupa di masa mendatang. Memang Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kendari sebagai badan yang memiliki kewenangan menyelidiki kandungan racun dalam bahan makanan telah mendapatkan adanya logam berat berupa Cu (tembaga) dalam tubuh sampel kerang yang dikirimkan oleh Dinas Kesehatan Kota Baubau dan menduga adanya arsen dan sianida  dalam sampel tersebut (Lihat di sini). Namun hasil analisis tersebut tidak serta merta dapat dijadikan sebagai kesimpulan penyebab utama timbulnya kejadian-kejadian keracunan di Sulawesi Tenggara. Sebab dari hasil analisis tersebut, pihak BPOM juga belum bisa memastikan bahwa kandungan tembagalah yang menyebabkan terjadinya keracunan karena perlu adanya penelitian pada semua makanan dan air minum yang dikonsumsi oleh korban. Kemudian juga adanya arsen serta sianida pada sampel yang dikirim oleh Dinkes Baubau juga masih sebatas dugaan. Juga hasil analisis tersebut sebatas pada sampel kerang yang dikirimkan oleh Dinas Kesehatan Kota Baubau sehingga tidak bisa mewakili penyebab kejadian-kejadian keracunan yang banyak terjadi di daerah lain di Sulawesi Tenggara.

Jadi seyogyanya instansi-instansi yang menangani urusan laut, ikan, kesehatan dan pencemaran di Sulawesi Tenggara harus bekerja lebih cepat, terpadu dan terkoordinasi agar masyarakat tidak berlarut-larut dalam kecemasan saat akan mengkonsumsi hasil laut  yang merupakan santapan favorit di daerah Sulawesi Tenggara. Juga untuk menyelamatkan kaum nelayan yang kian terjepit oleh kebutuhan hidup akibat menurunnya pendapatan setelah merebaknya kasus keracunan dan naiknya harga-harga bahan pokok.

Wassalam

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , , | 7 Komentar

Catatan atas Pelaksanaan Festival Perairan Pulau Makasar Kota Bau-Bau

koleksi wisata kota baubauTanggal 18-21 Juli 2010 kemarin, Pemerintah Kota Bau-Bau kembali menyemarakkan Tahun Kunjungan Indonesia (Visit Indonesia Year) melalui penyelenggaraan Festival Perairan Pulau Makassar (FPPM). FPPM Tahun 2010 ini merupakan kali ke-3 pelaksanaan festival yang dimaksudkan untuk mempromosikan Kota Bau-Bau sebagai salah satu kota tujuan wisata di kawasan timur Indonesia. Bahkan pelaksanaan FPPM III ini telah memiliki tema yang jelas yakni “Memantapkan Baubau sebagai Kota Tujuan Wisata, Ecotourism, Maupun Budaya di Kawasan Timur yang Nyaman”. Namun meski telah memiliki arahan yang jelas, iven ini nampaknya kurang laku dijual sebagai iven pariwisata. Dari pengamatan kami pada saat pembukaan, sangat sedikit bahkan hampir tak ada wisatawan mancanegara yang hadir selain para tamu dari Korea (yang memang sedang dalam misi kerjasama international musim semi universitas nasional Kyung Pook Korea) dan peserta Kongres Internasional Bahasa Daerah. Selain itu, kegiatan yang diharapkan menjadi kegiatan unggulan FPPM III yakni Lomba Perahu Naga yang bertaraf  Nasional, hanya diikuti oleh 3 kontingen peserta dari luar Kota Bau-Bau dari 50 undangan yang sudah dikirimkan.

Demikian pula gejala yang terlihat dari dunia internet sebelum pelaksanaan kegiatan ini. Sangat sedikit bahkan hampir tak ada agen-agen perjalanan yang menawarkan dan menyelenggarakan perjalanan ke pelaksanaan FPPM III meski telah dilakukan banyak promosi di berbagai media berita online dan media cetak lokal Sulawesi Tenggara. Demikian pula pada website Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang sampai hari pelaksanaan kegiatan tidak pernah mengulas dan menginformasikan tentang penyelenggaraan FPPM III. Kenyataan ini sungguh menjadi ironi mengingat Bau-Bau memiliki begitu banyak daya tarik wisata dan juga promosi pelaksanaan FPPM telah dilakukan secara meluas.

Apakah FPPM telah gagal sebagai ajang promosi pariwisata Kota Bau-Bau?  Butuh studi yang lebih lengkap selain penggalan-penggalan informasi dari internet untuk menjawabnya. Namun terlepas dari FPPM telah berhasil atau tidak sebagai ajang promosi, pelaksanaan FPPM memiliki beberapa kelemahan dikaitkan dengan potensi daya tarik wisata Kota Bau-Bau dan upaya pengembangan ecotourism (ekowisata) di perairan Pulau Makasar.

Kurang Mewakili Keunggulan Potensi Wisata Kota Bau-Bau

Pada Tahun 2008, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik kembali mencanangkan Visit Indonesia Year dalam upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di Indonesia setelah banyaknya keengganan wisatawan datang ke Indonesia akibat beberapa kejadian teror yang mematikan pada tahun-tahun sebelumnya. Menyambut pelaksanaan program tersebut, sepanjang Tahun 2008 tercatat sekitar 100 iven dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia termasuk salah satunya di Kota Bau-Bau. Namun disayangkan, pilihan iven yang dibuat oleh Pemerintah Kota Bau-Bau adalah iven ekowisata melalui penyelenggaraan Festival Perairan Pulau Makasar dengan muatan acara yang didominasi oleh kegiatan olahraga (lomba perahu naga, lomba perahu tradisional, pertandingan voli pantai, lomba renang antar pulau, atraksi jetski, banana boat dan flying fish) yang tidak menampilkan keunikan Kota Bau-Bau dan juga lokasi pelaksanaan kegiatannya yang tidak fokus dilaksanakan di Perairan Pulau Makasar (ada kegiatan yang dilaksanakan di Pantai Kamali dan Kelurahan Bugi yang berada jauh dari Pulau Makasar). Sedangkan Kota Bau-Bau telah lebih dulu dikenal sebagai kota yang memiliki banyak kebudayaan dan warisan sejarah yang unik, indah dan menarik seperti bangunan-bangunan peninggalan masa lalu, benteng-benteng pertahanan, kuliner, pakaian adat, acara-acara adat dan juga aktivitas manusianya. Bahkan salah satu warisan sejarah tersebut yakni Benteng Keraton Buton telah dikenal luas oleh publik di Indonesia sebagai benteng terluas di Indonesia yang ditetapkan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan luas 22,4 ha yang juga diprediksi merupakan benteng terluas di dunia, mengalahkan benteng terluas di dunia yang ada di Jerman dalam catatan Guines Book of Record yang luas wilayahnya hanya sebesar 18,4 hektar. Jadi kenapa bukan keunggulan-keunggulan ini yang dikemas dalam suatu iven spektakuler?

Perlunya Dikaji Kembali

Tentu saja tak ada yang salah jika kita ingin mempromosikan potensi ekowisata khususnya potensi pesisir yang kita miliki. Tapi seyogyanya tidak dilakukan secara tergesa-gesa dengan hanya berbekal informasi seadanya yang berkenaan dengan ekosistem pesisir Kota Bau-Bau. Perlu ada kajian yang mendalam tentang kelayakan pengembangan suatu kawasan pesisir sebagai kawasan ekowisata yang didukung oleh data yang lengkap dan akurat mengenai potensi ekosistem pesisir. Namun kenyataannya sampai hari ini belum ada data yang menyeluruh dan mendetail tentang kondisi ekosistem pesisir di Kota Bau-Bau. Ini berbeda dengan daerah-daerah lain yang mempromosikan daya tarik ekowisatanya. Mereka terlebih dulu memiliki data yang lengkap tentang potensi yang dimilikinya sebelum melakukan promosi ekowisata. Misalnya Wakatobi yang dipromosikan sebagai kawasan yang memiliki 942 jenis ikan dan 750 jenis karang dari total 850 jenis yang diketahui di dunia atau kawasan wisata Bunaken di Manado yang memiliki tiga ekosistem utama pesisir yakni hutan mangrove seluas 1800 ha, padang lamun yang luas dan terumbu karang yang didominasi oleh jenis terumbu karang tepi dan terumbu karang penghalang dengan berbagai variasi tebing karang vertikal.

Sedangkan pemilihan Perairan Pulau Makasar sebagai kawasan pengembangan kegiatan ekowisata di Kota Bau-Bau memiliki beberapa kelemahan yang mendasar. Pertama belum ada data yang lengkap dan mendetail menyangkut luasan, kondisi, keragaman biota pembentuk dan keragaman biota yang berasosiasi pada masing-masing ekosistem yang ada dalam kawasan perairan Pulau Makasar. Padahal keberadaan data ini penting sebagai bahan jualan kepariwisataan karena calon wisatawan tidak mungkin datang ke lokasi wisata tanpa diketahui keunikan dan keindahan apa yang akan dinikmati oleh mereka. Demikian juga data ini penting sebagai pedoman sampai sejauh mana pemanfaatan kawasan untuk kegiatan wisata agar berkelanjutan sebab kegiatan wisata yang melebihi kapasitas juga akan mempengaruhi keberlanjutan ekosistem itu sendiri. Kelemahan kedua adalah di kawasan ini kegiatan perikanan begitu banyak dan telah lama dilakukan oleh masyarakat seperti budidaya agar-agar, budidaya tambak dan kegiatan penangkapan ikan. Sementara kegiatan perikanan dan kegiatan ekowisata tidak mungkin untuk dipadukan dalam satu lokasi tanpa pembatasan ruang yang tegas dan jelas sebab memiliki substansi yang saling bertolak belakang. Substansi dari kegiatan perikanan adalah upaya eksploitasi sumberdaya perairan sementara substansi kegiatan ekowisata adalah upaya perlindungan terhadap sumberdaya perairan. Sebagai contoh, kehidupan dan pertumbuhan karang sangat bergantung kepada akses karang terhadap intensitas sinar matahari dimana karang harus mendapat sinar matahari yang cukup agar dapat melakukan kegiatan fotosintesis. Namun proses fotosintesis akan sulit dilakukan jika di permukaan perairan dipenuhi oleh rakit rumput laut yang dapat menyebabkan pertumbuhan karang akan terganggu bahkan dapat menyebabkan kematian karang. Belum lagi persoalan penggunaan berbagai metode dan alat tangkap khususnya alat tangkap dasar perairan yang dapat merusak terumbu karang. Demikian juga dengan ekosistem hutan mangrove yang ada di sebelah timur perairan Pulau Makasar. Ekosistem ini dapat pula dikembangkan sebagai salah satu obyek ekowisata dengan kekhasan tanaman dan biota-biota yang berasosiasi dengannya. Namun hal tersebut tidak mungkin dapat dilakukan jika lahan hidup mangrove terus dieksploitasi menjadi lahan tambak seperti yang terjadi saat ini.

Jadi kebijakan mempromosikan perairan Pulau Makasar sebagai kawasan ekowisata melalui penyelenggaraan FPPM sebaiknya perlu ditinjau kembali. Selain banyaknya tekanan terhadap ekosistem di kawasan ini, juga dengan ekosistem yang ada saat ini apakah sudah layak dijual sebagai kawasan ekowisata? Kemudian perlu dilakukan pendataan secara menyeluruh dan mendetail menyangkut kekayaan ekosistem kawasan ini karena tidak mungkin untuk mengajak calon wisatawan datang ke lokasi ini jika tidak diketahui daya tarik wisata apa saja yang akan dinikmati. Dan yang terakhir perlu dikaji apakah kegiatan ekowisata layak dikembangkan dan dipromosikan sebagai daya tarik wisata unggulan Kota Bau-Bau mengingat daerah-daerah di sekitar Kota Bau-Bau juga memiliki keunggulan-keunggulan daya tarik ekowisata yang telah dikenal oleh dunia internasional seperti Hutan Lambusango di Kabupaten Buton dan Taman Nasional Kepulauan Wakatobi. Jangan sampai kegiatan ini hanya menjadi seremoni tahunan yang tidak memiliki target yang jelas selain sebagai iven lomba perahu naga dan lomba renang antar pulau saja.

*sumber foto http://www.facebook.com/photo.php?pid=6455968&id=140422001067

Dipublikasi di Opini | Tag , , , | 2 Komentar

Kepingan Keindahan dari Pulau Wangi-Wangi

Pukul 21.00 di dermaga Mandati, Pulau Wangi-Wangi. Satu persatu tali pengikat kapal ditarik dari tambatan. Sementara bunyi mesin menderu menggetarkan dada para penumpang. Orang-orang di dermaga dan di haluan kapal saling membalas lambaian tangan. Bahkan ada yang sambil melompat-lompat. Aku pun tak lepas dari kegiatan itu. Memberi lambaian tangan pada seseorang yang berdiri di dermaga sambil tersenyum. Timbul tenggelam, ku mendengar teriakannya bernada pertanyaan padaku “kehia umbule kua ana?” dari seorang gadis lokal kualitas mojang priangan yang mengantarku. “Nantilah kita ketemu lagi,” jawabku diikuti lambaian tangan. Ya…malam itu menjadi malam perpisahan diriku dengannya dan juga seantero Pulau Wangi-Wangi setelah 37 hari saya berada di pulau itu menyelesaikan pekerjaan di Coremap II. Sayangnya, belum semua kejadian dan keindahan menarik yang saya dengar dari banyak orang berhasil saya alami dan saksikan. Padahal ini adalah kedatanganku yang ketiga kalinya di pulau terbesar di gugusan kepulauan tukang besi tersebut. Tapi tak apalah, saya akan meluangkan waktu untuk datang dan hanya untuk menikmati apa yang belum saya saksikan. Tak ada kerja, tak ada gangguan.

Walaupun kedatanganku kali ini bertujuan untuk bekerja, di sela-sela waktu saya menyempatkan diri untuk menikmati keindahan di atas pulau karang tersebut mulai dari alamnya, manusianya dan tradisi masyarakatnya. Ternyata walaupun pulau ini adalah pulau karang yang tidak begitu subur dan rimbun, tetapi cukup banyak manusia yang bertempat tinggal di pulau ini. Semenjak dahulu mereka telah mengandalkan ubi kayu dan air yang keluar dari celah-celah batuan sebagai penyambung hidup. Dan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidunya, mereka melakukan perluasan usaha hingga ke Malaysia, Singapura, Pulau Jawa, Maluku, Irian, Nusa Tenggara bahkan hingga ke perairan Australia yang membuat banyak diantara mereka menjadi tahanan Negeri Kanguru tersebut.

Berikut adalah beberapa kepingan keindahan yang sempat saya abadikan. Selamat menikmati hidangan ringan ini.

Ini adalah pantai di Desa Waha yang menjadi salah satu dari 40 desa binaan Coremap II di Kabupaten Wakatobi. Di depan pantai ini dasar perairannya didominasi oleh terumbu karang dengan morfologi yang heterogen mulai dari rataan, gosong, lereng hingga berbentuk dinding yang dihuni oleh berbagai macam biota laut termasuk ikan napoleon yang beberapa kali sempat menjadi tangkapan bubu nelayan. Semuanya tersaji dalm satu lingkungan yang sempit. Sayangnya saya belum sempat menikmati semua keindahan bawah laut itu secara langsung. Nantilah saat waktu menjadi recreational diver tiba.

Ini adalah pemandangan rutin setiap hari dimana matahari akan terbenam. Gambar ini diambil dari Pelabuhan Mandati dan Pantai Wandoka Utara. Titik kecil pada gambar kedua itu adalh sebuah perahu layar kepunyaan nelayan yang sedabng menangkap ikan. Saya begitu tertegun saat mengambil gambarnya dan bersyukur akhirnya saya memiliki foto tentang matahari yang begitu indah. Bagus kan?

Ini adalah salah satu pemukiman masyarakat etnis Bajo diantara beberapa kampung bajo yang ada di Kepulauan Wakatobi. Luasnya mencapai 8 km² yang terbagi ke dalam 4 desa. Hebatnya, lahan seluas itu merupakan karya swadaya masyarakat sendiri dari usaha menimbun laut dengan memakai macam-macam sumberdaya. Batu karang, batu gunung dan pasir laut.
Masyarakat disini menyebut dirinya Bajo Mola. Awalnya mereka adalah pindahan dari Kampung Bajo Horuo di Pulau Kaledupa yang berpindah karena adanya gangguan gerombolan DI/TII dan hanya menetap di atas perahu untuk beberapa waktu lama karena belum ada izin untuk tinggal dari penguasa adat dahulu. Setelah ada persetujuan dengan tetua adat di Desa Liya, akhirnya mereka diizinkan membuat pemukiman di laut yang kemudian dalam perkembangannya akhirnya saat ini telah bersambung dengan daratan utama.

Ini adalah gambar salah satu dari sekian rumah yang ada di Kampung Bajo Mola yang menjadikan kolong rumah sebagai lahan pembesaran ikan. Ikan yang ada di kolong rumah ini jumlhnya tinggal sekitar 300 ekor dari sekitar 1000 bibit yang dipelihara. Dalam salah satu dialog dengan masyarakat lokal, mereka berharap lebih banyak upaya dilakukan untuk mengarahkan masyarakat agar membuat rumah seperti ini. Siapa yang tertantang atau berminat makan ikan dalam jumlah banyak? Datang saja ke Desa Mola Utara.

Ini adalah beberapa dari ratusan armada melaut masyarakat bajo. Dengan armada ini, mereka menjelajahi laut banda dan laut flores hingga ke perbatasan Australia untuk menangkap hasil laut terutama tuna. Dengan armada ini pula mereka berbulan-bulan tinggal di seputaran Karang Kaledupa (atol tunggal terpanjang di dunia dengan panjang mencapai 48 km) untuk menangkap hasil laut.

Ini adalah puncak acara dari acara Kabuenga, salah satu tradisi yng cukup sering diadakan di Pulau Wangi-Wangi dan hanya ada di pulau ini. Peminat dan penontonnya sangat banyak sampai berjubel dan memanjat daerah ketinggian. Pemda setempat menjadikanya sebagai salah satu agenda wisata andalan.
Inti sari acara ini adalah mempertemukan para perjaka dan perawan yang ingin mencari jodoh. Tiang bambu yang berdiri ini adalah tiang ayunan yang sudah didirikan satu bulan sebelum acara ini diselenggarakan yang diperuntukkan buat muda-mudi untuk saling mengenal satu sama lain. Kemudian pada acara puncak ini para lelaki akan saling mengungkapkan perasaan sukanya melalui bingkisan yang dibawa. Ada yang membawa kebutuhan wanita dan ada juga yang menunjukkannya melalui rupiah. Pot bunga yang dihiasi uang seratus ribuan itu asli.
Sementara mereka yang berkeliling menjajakan minuman adalah para puteri yang belum sempat saling mengenali dengan calon pasangannya sehingga harus menebar pesona dengan menjajakan minuman. Lelaki yang menaruh minat akan memberikan uang yang cukup banyak untuk menarik perhatian sang pujaan hati.

Ini adalah foto dari sekumpulan anak bajo yang sedang bermain-main pada pukul 13.00. Bagi mereka, laut adalah arena bermain yang sangat menyenangkan hingga tak peduli sekalipun matahari sedang memanggang kulit mereka. Sementara gambar yang satunya menunjukkan seorang anak yang sedang belajar berenang pada waktu yang sama. Hebat ya, kecil-kecil sudah belajar berenang. Saya saja nanti menginjak bangku SMP.

Ini adalah salah satu kesenangan masyarakat Pulau Wangi-Wangi untuk melepaskan diri dari kepenatan hidup yang mereka jalani setiap hari. Di acara ini mereka bergembira ria melepaskan beban mereka melalui gerak tubuh secara bebas dengan diiringi musik menghentak. Mirip diskotiklah tapi tak ada DJ or lampu berwarna-warni. Di acara jodeg ini hanya mengandalkan electon dan penyanyi yang sanggup menyanyikan puluhan lagu berirama remix. Tak ada batasan syair. Lagu-lagu yang sering kita dengarkan berirama pop atau rock akan berubah menjadi remix di tempat ini. Malam itu saya mendengar lagu dari Wali Band (Bertahan), Dewi-Dewi (Virus Cinta) dan Andra (Sempurna) berubah menjadi lagu remix yang sangat menghentak.

Nah, ini adalah gadis-gadis pulau yang siang dan malam terpapar angin berkadar garam tapi tetap punya kecantikan dan kemolekan gadis-gadis di daerah beriklim sejuk. Mereka juga ramah dan terbuka pada setiap orang yang ingin berkenalan. Siapa berminat melabuhkan cintanya? Silahkan saja ke Pulau Wangi-Wangi asal dengan niat baik Insya Allah mereka akan membuka pintu hatinya lebar-lebar.

Dipublikasi di Jalan-Jalan | 6 Komentar