ERBE dan Geliat EKonomi Pulau Wangiwangi

Pulau Wangiwangi telah cukup lama dikenal sejak masih bergabung dalam Kabupaten Buton sebagai daerah pengimpor pakaian bekas yang dalam bahasa lokal disebut ERBE (RB; merupakan singkatan dari kata rombengan.Di kota makassar, jenis pakaian ini disebut dengan cakar, akronim dari kata “cap karung”).Ya, walaupun hanya berukuran 156,5 km persegi, pulau tersebut sudah sejak dulu (tidak tahu pastinya) terkenal di kawasan timur Indonesia. Kepopuleran yang meluas terebut dikarenakan pulau tersebut menjadi sentra distribusi pakaian bekas (erbe/cakar) impor ntuk daerah-daearh  dari jazirah tenggara pulau sulawesi hingga pelosok pulau irian. Bahkan sewaktu kuliah di makassar, beberapa kali teman-teman menitip oleh-oleh pakaian mulai dari sepatu, celana, jeket, topi, tas setiap saya pulan ke bau-bau meskipun hal ini jarang saya penuhi (untuk ini saya minta maaf kepada mereka) karena mereka tahu di kotaku banyak barang-barang yang didatangkan dari Pulau Wangiwangi.

ERBE memang menjadi salah satu fenomena menarik di pulau ini. Tetapi ini hanyalah salah satu dampak dari usaha dalam skala besar dan jamak dilakukan oleh masyarakat di pulau ini yakni merantau ke malaysia. Menurut salah satu informasi yang saya dapatkan, bahwa kegiatan merantau ke malaysia ini telah berlangsung sejak tahuna 50-an. Awal mula kegiatan merantau ini dilakukan untuk menjual timah yang mereka peroleh dari Pulau Bangka dimana masa itu, pulau bangka telah terkenal sebagai daerah penghasil timah yang membuat mereka meninggalkan kampung halamannya. Nah, seiring dengan peningkatan perekonomian malaysia para perantau ini pun membuka jalur perdagangan barang-barang bekas di negara tersebut ke kampung halamannya. Maka tak heran kemudian di kepulauan wakatobi khususnya di Pulau Wangiwangi banyak beredar barang-barang yang belum/tidak diproduksi di Indonesia dan dengan harga yang sangat murah mulai dari pakaian, perlengkapan rumah tangga bahkan motor sudah menjadi komoditi yang diperdagangkan. Secara ilegal tentunya.

Namun seiring dengan ketatnya pengawasan barang-barang impor ilegal, dan juga kian meningkatnya kemampuan ekonomi masyarakat, masyarakat pulau kemudian banyak yang beralih membeli barang-barang produksi dalam negeri. Tetapi erbe masih menjadi komoditi perdagangan karena masih tingginya minat masyarakat akan barang-barang tersebut.

Tentang Nasruddin

Saya seorang penikmat alam sekitar khususnya pesisir dan laut. Anda dapat mengontak saya di lanas2306@yahoo.com Salam
Pos ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

2 Balasan ke ERBE dan Geliat EKonomi Pulau Wangiwangi

  1. idol berkata:

    mampirka’ bosss

  2. dinar berkata:

    hidup RB !!! karena RB saya bisa skolah sampe perguruan tinggi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s