Kepingan Keindahan dari Pulau Wangi-Wangi

Pukul 21.00 di dermaga Mandati, Pulau Wangi-Wangi. Satu persatu tali pengikat kapal ditarik dari tambatan. Sementara bunyi mesin menderu menggetarkan dada para penumpang. Orang-orang di dermaga dan di haluan kapal saling membalas lambaian tangan. Bahkan ada yang sambil melompat-lompat. Aku pun tak lepas dari kegiatan itu. Memberi lambaian tangan pada seseorang yang berdiri di dermaga sambil tersenyum. Timbul tenggelam, ku mendengar teriakannya bernada pertanyaan padaku “kehia umbule kua ana?” dari seorang gadis lokal kualitas mojang priangan yang mengantarku. “Nantilah kita ketemu lagi,” jawabku diikuti lambaian tangan. Ya…malam itu menjadi malam perpisahan diriku dengannya dan juga seantero Pulau Wangi-Wangi setelah 37 hari saya berada di pulau itu menyelesaikan pekerjaan di Coremap II. Sayangnya, belum semua kejadian dan keindahan menarik yang saya dengar dari banyak orang berhasil saya alami dan saksikan. Padahal ini adalah kedatanganku yang ketiga kalinya di pulau terbesar di gugusan kepulauan tukang besi tersebut. Tapi tak apalah, saya akan meluangkan waktu untuk datang dan hanya untuk menikmati apa yang belum saya saksikan. Tak ada kerja, tak ada gangguan.

Walaupun kedatanganku kali ini bertujuan untuk bekerja, di sela-sela waktu saya menyempatkan diri untuk menikmati keindahan di atas pulau karang tersebut mulai dari alamnya, manusianya dan tradisi masyarakatnya. Ternyata walaupun pulau ini adalah pulau karang yang tidak begitu subur dan rimbun, tetapi cukup banyak manusia yang bertempat tinggal di pulau ini. Semenjak dahulu mereka telah mengandalkan ubi kayu dan air yang keluar dari celah-celah batuan sebagai penyambung hidup. Dan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidunya, mereka melakukan perluasan usaha hingga ke Malaysia, Singapura, Pulau Jawa, Maluku, Irian, Nusa Tenggara bahkan hingga ke perairan Australia yang membuat banyak diantara mereka menjadi tahanan Negeri Kanguru tersebut.

Berikut adalah beberapa kepingan keindahan yang sempat saya abadikan. Selamat menikmati hidangan ringan ini.

Ini adalah pantai di Desa Waha yang menjadi salah satu dari 40 desa binaan Coremap II di Kabupaten Wakatobi. Di depan pantai ini dasar perairannya didominasi oleh terumbu karang dengan morfologi yang heterogen mulai dari rataan, gosong, lereng hingga berbentuk dinding yang dihuni oleh berbagai macam biota laut termasuk ikan napoleon yang beberapa kali sempat menjadi tangkapan bubu nelayan. Semuanya tersaji dalm satu lingkungan yang sempit. Sayangnya saya belum sempat menikmati semua keindahan bawah laut itu secara langsung. Nantilah saat waktu menjadi recreational diver tiba.

Ini adalah pemandangan rutin setiap hari dimana matahari akan terbenam. Gambar ini diambil dari Pelabuhan Mandati dan Pantai Wandoka Utara. Titik kecil pada gambar kedua itu adalh sebuah perahu layar kepunyaan nelayan yang sedabng menangkap ikan. Saya begitu tertegun saat mengambil gambarnya dan bersyukur akhirnya saya memiliki foto tentang matahari yang begitu indah. Bagus kan?

Ini adalah salah satu pemukiman masyarakat etnis Bajo diantara beberapa kampung bajo yang ada di Kepulauan Wakatobi. Luasnya mencapai 8 km² yang terbagi ke dalam 4 desa. Hebatnya, lahan seluas itu merupakan karya swadaya masyarakat sendiri dari usaha menimbun laut dengan memakai macam-macam sumberdaya. Batu karang, batu gunung dan pasir laut.
Masyarakat disini menyebut dirinya Bajo Mola. Awalnya mereka adalah pindahan dari Kampung Bajo Horuo di Pulau Kaledupa yang berpindah karena adanya gangguan gerombolan DI/TII dan hanya menetap di atas perahu untuk beberapa waktu lama karena belum ada izin untuk tinggal dari penguasa adat dahulu. Setelah ada persetujuan dengan tetua adat di Desa Liya, akhirnya mereka diizinkan membuat pemukiman di laut yang kemudian dalam perkembangannya akhirnya saat ini telah bersambung dengan daratan utama.

Ini adalah gambar salah satu dari sekian rumah yang ada di Kampung Bajo Mola yang menjadikan kolong rumah sebagai lahan pembesaran ikan. Ikan yang ada di kolong rumah ini jumlhnya tinggal sekitar 300 ekor dari sekitar 1000 bibit yang dipelihara. Dalam salah satu dialog dengan masyarakat lokal, mereka berharap lebih banyak upaya dilakukan untuk mengarahkan masyarakat agar membuat rumah seperti ini. Siapa yang tertantang atau berminat makan ikan dalam jumlah banyak? Datang saja ke Desa Mola Utara.

Ini adalah beberapa dari ratusan armada melaut masyarakat bajo. Dengan armada ini, mereka menjelajahi laut banda dan laut flores hingga ke perbatasan Australia untuk menangkap hasil laut terutama tuna. Dengan armada ini pula mereka berbulan-bulan tinggal di seputaran Karang Kaledupa (atol tunggal terpanjang di dunia dengan panjang mencapai 48 km) untuk menangkap hasil laut.

Ini adalah puncak acara dari acara Kabuenga, salah satu tradisi yng cukup sering diadakan di Pulau Wangi-Wangi dan hanya ada di pulau ini. Peminat dan penontonnya sangat banyak sampai berjubel dan memanjat daerah ketinggian. Pemda setempat menjadikanya sebagai salah satu agenda wisata andalan.
Inti sari acara ini adalah mempertemukan para perjaka dan perawan yang ingin mencari jodoh. Tiang bambu yang berdiri ini adalah tiang ayunan yang sudah didirikan satu bulan sebelum acara ini diselenggarakan yang diperuntukkan buat muda-mudi untuk saling mengenal satu sama lain. Kemudian pada acara puncak ini para lelaki akan saling mengungkapkan perasaan sukanya melalui bingkisan yang dibawa. Ada yang membawa kebutuhan wanita dan ada juga yang menunjukkannya melalui rupiah. Pot bunga yang dihiasi uang seratus ribuan itu asli.
Sementara mereka yang berkeliling menjajakan minuman adalah para puteri yang belum sempat saling mengenali dengan calon pasangannya sehingga harus menebar pesona dengan menjajakan minuman. Lelaki yang menaruh minat akan memberikan uang yang cukup banyak untuk menarik perhatian sang pujaan hati.

Ini adalah foto dari sekumpulan anak bajo yang sedang bermain-main pada pukul 13.00. Bagi mereka, laut adalah arena bermain yang sangat menyenangkan hingga tak peduli sekalipun matahari sedang memanggang kulit mereka. Sementara gambar yang satunya menunjukkan seorang anak yang sedang belajar berenang pada waktu yang sama. Hebat ya, kecil-kecil sudah belajar berenang. Saya saja nanti menginjak bangku SMP.

Ini adalah salah satu kesenangan masyarakat Pulau Wangi-Wangi untuk melepaskan diri dari kepenatan hidup yang mereka jalani setiap hari. Di acara ini mereka bergembira ria melepaskan beban mereka melalui gerak tubuh secara bebas dengan diiringi musik menghentak. Mirip diskotiklah tapi tak ada DJ or lampu berwarna-warni. Di acara jodeg ini hanya mengandalkan electon dan penyanyi yang sanggup menyanyikan puluhan lagu berirama remix. Tak ada batasan syair. Lagu-lagu yang sering kita dengarkan berirama pop atau rock akan berubah menjadi remix di tempat ini. Malam itu saya mendengar lagu dari Wali Band (Bertahan), Dewi-Dewi (Virus Cinta) dan Andra (Sempurna) berubah menjadi lagu remix yang sangat menghentak.

Nah, ini adalah gadis-gadis pulau yang siang dan malam terpapar angin berkadar garam tapi tetap punya kecantikan dan kemolekan gadis-gadis di daerah beriklim sejuk. Mereka juga ramah dan terbuka pada setiap orang yang ingin berkenalan. Siapa berminat melabuhkan cintanya? Silahkan saja ke Pulau Wangi-Wangi asal dengan niat baik Insya Allah mereka akan membuka pintu hatinya lebar-lebar.

Tentang Nasruddin

Saya seorang penikmat alam sekitar khususnya pesisir dan laut. Anda dapat mengontak saya di lanas2306@yahoo.com Salam
Pos ini dipublikasikan di Jalan-Jalan. Tandai permalink.

6 Balasan ke Kepingan Keindahan dari Pulau Wangi-Wangi

  1. Maek...Sss berkata:

    Thx 4 artikelx

  2. dinar berkata:

    bung itu kampung saya. meski berada dirantau sekarang, namun saya sangat rindu kampung halaman saya tersebut…..tambah lagi dong foto-2 orang wakatobi. sapa tau ada pacar saya di situ.

  3. muliono bin laode umbu berkata:

    dah 25 tahun saya tinggalkan.insya Allah tahun nie sambut 17 ogos dan lebaran kampung,salamawi,liya,togo.

  4. Nasruddin berkata:

    semoga cepat bertemu sanak famili di sana bro

  5. Hi i am kavin, its my first time to commenting anyplace, when i
    read this post i thought i could also make comment due to
    this sensible piece of writing.

  6. Nasruddin berkata:

    Thank you very much kavin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s