Catatan atas Pelaksanaan Festival Perairan Pulau Makasar Kota Bau-Bau

koleksi wisata kota baubauTanggal 18-21 Juli 2010 kemarin, Pemerintah Kota Bau-Bau kembali menyemarakkan Tahun Kunjungan Indonesia (Visit Indonesia Year) melalui penyelenggaraan Festival Perairan Pulau Makassar (FPPM). FPPM Tahun 2010 ini merupakan kali ke-3 pelaksanaan festival yang dimaksudkan untuk mempromosikan Kota Bau-Bau sebagai salah satu kota tujuan wisata di kawasan timur Indonesia. Bahkan pelaksanaan FPPM III ini telah memiliki tema yang jelas yakni “Memantapkan Baubau sebagai Kota Tujuan Wisata, Ecotourism, Maupun Budaya di Kawasan Timur yang Nyaman”. Namun meski telah memiliki arahan yang jelas, iven ini nampaknya kurang laku dijual sebagai iven pariwisata. Dari pengamatan kami pada saat pembukaan, sangat sedikit bahkan hampir tak ada wisatawan mancanegara yang hadir selain para tamu dari Korea (yang memang sedang dalam misi kerjasama international musim semi universitas nasional Kyung Pook Korea) dan peserta Kongres Internasional Bahasa Daerah. Selain itu, kegiatan yang diharapkan menjadi kegiatan unggulan FPPM III yakni Lomba Perahu Naga yang bertaraf  Nasional, hanya diikuti oleh 3 kontingen peserta dari luar Kota Bau-Bau dari 50 undangan yang sudah dikirimkan.

Demikian pula gejala yang terlihat dari dunia internet sebelum pelaksanaan kegiatan ini. Sangat sedikit bahkan hampir tak ada agen-agen perjalanan yang menawarkan dan menyelenggarakan perjalanan ke pelaksanaan FPPM III meski telah dilakukan banyak promosi di berbagai media berita online dan media cetak lokal Sulawesi Tenggara. Demikian pula pada website Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang sampai hari pelaksanaan kegiatan tidak pernah mengulas dan menginformasikan tentang penyelenggaraan FPPM III. Kenyataan ini sungguh menjadi ironi mengingat Bau-Bau memiliki begitu banyak daya tarik wisata dan juga promosi pelaksanaan FPPM telah dilakukan secara meluas.

Apakah FPPM telah gagal sebagai ajang promosi pariwisata Kota Bau-Bau?  Butuh studi yang lebih lengkap selain penggalan-penggalan informasi dari internet untuk menjawabnya. Namun terlepas dari FPPM telah berhasil atau tidak sebagai ajang promosi, pelaksanaan FPPM memiliki beberapa kelemahan dikaitkan dengan potensi daya tarik wisata Kota Bau-Bau dan upaya pengembangan ecotourism (ekowisata) di perairan Pulau Makasar.

Kurang Mewakili Keunggulan Potensi Wisata Kota Bau-Bau

Pada Tahun 2008, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik kembali mencanangkan Visit Indonesia Year dalam upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di Indonesia setelah banyaknya keengganan wisatawan datang ke Indonesia akibat beberapa kejadian teror yang mematikan pada tahun-tahun sebelumnya. Menyambut pelaksanaan program tersebut, sepanjang Tahun 2008 tercatat sekitar 100 iven dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia termasuk salah satunya di Kota Bau-Bau. Namun disayangkan, pilihan iven yang dibuat oleh Pemerintah Kota Bau-Bau adalah iven ekowisata melalui penyelenggaraan Festival Perairan Pulau Makasar dengan muatan acara yang didominasi oleh kegiatan olahraga (lomba perahu naga, lomba perahu tradisional, pertandingan voli pantai, lomba renang antar pulau, atraksi jetski, banana boat dan flying fish) yang tidak menampilkan keunikan Kota Bau-Bau dan juga lokasi pelaksanaan kegiatannya yang tidak fokus dilaksanakan di Perairan Pulau Makasar (ada kegiatan yang dilaksanakan di Pantai Kamali dan Kelurahan Bugi yang berada jauh dari Pulau Makasar). Sedangkan Kota Bau-Bau telah lebih dulu dikenal sebagai kota yang memiliki banyak kebudayaan dan warisan sejarah yang unik, indah dan menarik seperti bangunan-bangunan peninggalan masa lalu, benteng-benteng pertahanan, kuliner, pakaian adat, acara-acara adat dan juga aktivitas manusianya. Bahkan salah satu warisan sejarah tersebut yakni Benteng Keraton Buton telah dikenal luas oleh publik di Indonesia sebagai benteng terluas di Indonesia yang ditetapkan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan luas 22,4 ha yang juga diprediksi merupakan benteng terluas di dunia, mengalahkan benteng terluas di dunia yang ada di Jerman dalam catatan Guines Book of Record yang luas wilayahnya hanya sebesar 18,4 hektar. Jadi kenapa bukan keunggulan-keunggulan ini yang dikemas dalam suatu iven spektakuler?

Perlunya Dikaji Kembali

Tentu saja tak ada yang salah jika kita ingin mempromosikan potensi ekowisata khususnya potensi pesisir yang kita miliki. Tapi seyogyanya tidak dilakukan secara tergesa-gesa dengan hanya berbekal informasi seadanya yang berkenaan dengan ekosistem pesisir Kota Bau-Bau. Perlu ada kajian yang mendalam tentang kelayakan pengembangan suatu kawasan pesisir sebagai kawasan ekowisata yang didukung oleh data yang lengkap dan akurat mengenai potensi ekosistem pesisir. Namun kenyataannya sampai hari ini belum ada data yang menyeluruh dan mendetail tentang kondisi ekosistem pesisir di Kota Bau-Bau. Ini berbeda dengan daerah-daerah lain yang mempromosikan daya tarik ekowisatanya. Mereka terlebih dulu memiliki data yang lengkap tentang potensi yang dimilikinya sebelum melakukan promosi ekowisata. Misalnya Wakatobi yang dipromosikan sebagai kawasan yang memiliki 942 jenis ikan dan 750 jenis karang dari total 850 jenis yang diketahui di dunia atau kawasan wisata Bunaken di Manado yang memiliki tiga ekosistem utama pesisir yakni hutan mangrove seluas 1800 ha, padang lamun yang luas dan terumbu karang yang didominasi oleh jenis terumbu karang tepi dan terumbu karang penghalang dengan berbagai variasi tebing karang vertikal.

Sedangkan pemilihan Perairan Pulau Makasar sebagai kawasan pengembangan kegiatan ekowisata di Kota Bau-Bau memiliki beberapa kelemahan yang mendasar. Pertama belum ada data yang lengkap dan mendetail menyangkut luasan, kondisi, keragaman biota pembentuk dan keragaman biota yang berasosiasi pada masing-masing ekosistem yang ada dalam kawasan perairan Pulau Makasar. Padahal keberadaan data ini penting sebagai bahan jualan kepariwisataan karena calon wisatawan tidak mungkin datang ke lokasi wisata tanpa diketahui keunikan dan keindahan apa yang akan dinikmati oleh mereka. Demikian juga data ini penting sebagai pedoman sampai sejauh mana pemanfaatan kawasan untuk kegiatan wisata agar berkelanjutan sebab kegiatan wisata yang melebihi kapasitas juga akan mempengaruhi keberlanjutan ekosistem itu sendiri. Kelemahan kedua adalah di kawasan ini kegiatan perikanan begitu banyak dan telah lama dilakukan oleh masyarakat seperti budidaya agar-agar, budidaya tambak dan kegiatan penangkapan ikan. Sementara kegiatan perikanan dan kegiatan ekowisata tidak mungkin untuk dipadukan dalam satu lokasi tanpa pembatasan ruang yang tegas dan jelas sebab memiliki substansi yang saling bertolak belakang. Substansi dari kegiatan perikanan adalah upaya eksploitasi sumberdaya perairan sementara substansi kegiatan ekowisata adalah upaya perlindungan terhadap sumberdaya perairan. Sebagai contoh, kehidupan dan pertumbuhan karang sangat bergantung kepada akses karang terhadap intensitas sinar matahari dimana karang harus mendapat sinar matahari yang cukup agar dapat melakukan kegiatan fotosintesis. Namun proses fotosintesis akan sulit dilakukan jika di permukaan perairan dipenuhi oleh rakit rumput laut yang dapat menyebabkan pertumbuhan karang akan terganggu bahkan dapat menyebabkan kematian karang. Belum lagi persoalan penggunaan berbagai metode dan alat tangkap khususnya alat tangkap dasar perairan yang dapat merusak terumbu karang. Demikian juga dengan ekosistem hutan mangrove yang ada di sebelah timur perairan Pulau Makasar. Ekosistem ini dapat pula dikembangkan sebagai salah satu obyek ekowisata dengan kekhasan tanaman dan biota-biota yang berasosiasi dengannya. Namun hal tersebut tidak mungkin dapat dilakukan jika lahan hidup mangrove terus dieksploitasi menjadi lahan tambak seperti yang terjadi saat ini.

Jadi kebijakan mempromosikan perairan Pulau Makasar sebagai kawasan ekowisata melalui penyelenggaraan FPPM sebaiknya perlu ditinjau kembali. Selain banyaknya tekanan terhadap ekosistem di kawasan ini, juga dengan ekosistem yang ada saat ini apakah sudah layak dijual sebagai kawasan ekowisata? Kemudian perlu dilakukan pendataan secara menyeluruh dan mendetail menyangkut kekayaan ekosistem kawasan ini karena tidak mungkin untuk mengajak calon wisatawan datang ke lokasi ini jika tidak diketahui daya tarik wisata apa saja yang akan dinikmati. Dan yang terakhir perlu dikaji apakah kegiatan ekowisata layak dikembangkan dan dipromosikan sebagai daya tarik wisata unggulan Kota Bau-Bau mengingat daerah-daerah di sekitar Kota Bau-Bau juga memiliki keunggulan-keunggulan daya tarik ekowisata yang telah dikenal oleh dunia internasional seperti Hutan Lambusango di Kabupaten Buton dan Taman Nasional Kepulauan Wakatobi. Jangan sampai kegiatan ini hanya menjadi seremoni tahunan yang tidak memiliki target yang jelas selain sebagai iven lomba perahu naga dan lomba renang antar pulau saja.

*sumber foto http://www.facebook.com/photo.php?pid=6455968&id=140422001067

Tentang Nasruddin

Saya seorang penikmat alam sekitar khususnya pesisir dan laut. Anda dapat mengontak saya di lanas2306@yahoo.com Salam
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Catatan atas Pelaksanaan Festival Perairan Pulau Makasar Kota Bau-Bau

  1. datan berkata:

    saya setuju atas pendapat anda, didaerah kota Bau-Bau lebih terkenal dengan adat istiadat yang kuat dalam lingkup benteng karaton yang luas, tapi mengapa pemerintah bau-bau justru membanggakan festival perairan pulau makasar, dimana-mana perairan banyak diindonesia bukan cuma dibau-bau saja, jadi saran saya janganlah seperti kacang lupa akan kulitnya dan janganlah habis manis sepah dibuang, tidakkah kau ingat sejarah buton, tidakkah kau ingat raja-raja buton terdahulu, dengan ini saya menyeruhkan bangkitlah kau keraton buton dengan festival terdahulumu bukan dengan festival yang bukan habitatmu.

  2. La Maha berkata:

    Festival Keraton Buton lebih baik untuk menjual Potensi wisata Kota Wolio (Bau-Bau), Festival Keraton Nusantara ada kenapa di Butuuni di tiadakan………. teringat akan memori tahun 1995 FKB yang luar biasa menariknya, berbadaan wilayah administrasi jangan menjadi penghalang tetapi menjadi ujian apakah kita siap menjadi daerah otonom yang lepas dari Sultra dalam bingkai Buton Raya dengan Bau-Bau sebagai Ibukotanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s