ERBE dan Geliat EKonomi Pulau Wangiwangi

Pulau Wangiwangi telah cukup lama dikenal sejak masih bergabung dalam Kabupaten Buton sebagai daerah pengimpor pakaian bekas yang dalam bahasa lokal disebut ERBE (RB; merupakan singkatan dari kata rombengan.Di kota makassar, jenis pakaian ini disebut dengan cakar, akronim dari kata “cap karung”).Ya, walaupun hanya berukuran 156,5 km persegi, pulau tersebut sudah sejak dulu (tidak tahu pastinya) terkenal di kawasan timur Indonesia. Kepopuleran yang meluas terebut dikarenakan pulau tersebut menjadi sentra distribusi pakaian bekas (erbe/cakar) impor ntuk daerah-daearh  dari jazirah tenggara pulau sulawesi hingga pelosok pulau irian. Bahkan sewaktu kuliah di makassar, beberapa kali teman-teman menitip oleh-oleh pakaian mulai dari sepatu, celana, jeket, topi, tas setiap saya pulan ke bau-bau meskipun hal ini jarang saya penuhi (untuk ini saya minta maaf kepada mereka) karena mereka tahu di kotaku banyak barang-barang yang didatangkan dari Pulau Wangiwangi.

ERBE memang menjadi salah satu fenomena menarik di pulau ini. Tetapi ini hanyalah salah satu dampak dari usaha dalam skala besar dan jamak dilakukan oleh masyarakat di pulau ini yakni merantau ke malaysia. Menurut salah satu informasi yang saya dapatkan, bahwa kegiatan merantau ke malaysia ini telah berlangsung sejak tahuna 50-an. Awal mula kegiatan merantau ini dilakukan untuk menjual timah yang mereka peroleh dari Pulau Bangka dimana masa itu, pulau bangka telah terkenal sebagai daerah penghasil timah yang membuat mereka meninggalkan kampung halamannya. Nah, seiring dengan peningkatan perekonomian malaysia para perantau ini pun membuka jalur perdagangan barang-barang bekas di negara tersebut ke kampung halamannya. Maka tak heran kemudian di kepulauan wakatobi khususnya di Pulau Wangiwangi banyak beredar barang-barang yang belum/tidak diproduksi di Indonesia dan dengan harga yang sangat murah mulai dari pakaian, perlengkapan rumah tangga bahkan motor sudah menjadi komoditi yang diperdagangkan. Secara ilegal tentunya.

Namun seiring dengan ketatnya pengawasan barang-barang impor ilegal, dan juga kian meningkatnya kemampuan ekonomi masyarakat, masyarakat pulau kemudian banyak yang beralih membeli barang-barang produksi dalam negeri. Tetapi erbe masih menjadi komoditi perdagangan karena masih tingginya minat masyarakat akan barang-barang tersebut.

Dipublikasi di Opini | 2 Komentar

Sepenggal Cerita tentang Kaledupa

ini adalah cerita tentang Pulau Kaledupa yang dibuat tahun 2007 kemarin. Beberapa informasi barangkali sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

Kapal bermesin tempel (baca: spit) yang kami berdua tumpangi bersama belasan penumpang lainnya dari Pelabuhan Mola, Wanci akhirnya merapat di Dermaga Ambeua setelah sekitar dua jam diombang-ambingkan perairan Wakatobi.Untunglah saat ini Bulan November yang merupakan bulan-bulan pancaroba akhir tahun. Jadi ombak sudah tidaklah terlalu besar seperti halnya pada saat musim timur dimana angin yang berhembus dari Laut Banda cukup memaksa para pelautmengeluarkan semua doa-doa perlindungan yang mereka punyai.
Setelah membayar ongkos perjalanan sebesar Rp 25.000 kami pun menjejakkan tanah di Pulau Kaledupa yang pada masa dahulu dikenal dengan nama “andi-andina wolio.“ Kami masing-masing langsung menaiki ojek motor setelah disepakati ongkosnya Rp 5000 sampai di tujuan kami yaitu rumah salah seorang kerabat di Desa Lewuto. Jaraknya memang tidaklah terlalu jauh sekitar satu kilometer. Tetapi itu adalah tarif standar untuk jarak-jarak dekat. Dan jika jaraknya jauh, ongkos menjadi sesuatu yang perlu disepakati.Tetapi jangan khawatir jika harga tidak cocok karena masih banyak ojek lain yang sudah menunggu. Ojek-ojek ini memang banyak yang menunnggu penumpang setiap ada spit yang merapat. Jangan mengharapkan untuk mendapatkan mobil atau bus angkutan karena kedua jenis angkutan itu masih merupakan barang langka di pulau ini.
Seorang perempuan tua sedang memasak kasoami di kolong rumah saat saya mengucapkan salam. Kasoami adalah jenis makanan tradisional yang dulunya merupakan bahan makanan pokok masyarakat Pulau Kaledupa dan umumnya Wakatobi sebelum mereka mengenal beras. Bahannya terbuat dari singkong yang diparut. Bentuknya cukup unik yaitu seperti nasi tumpeng tetapi dalam ukuran kecil. Proses pembuatannya juga cukup unik. Pertama-tama singkong yang sudah diparut di masukkan ke dalam cetakan yang terbuat dari daun kelapa yang dibentuk menyerupai kerucut. Bahan dan cetakan ini kemudian disimpan terbalik (bagian lancip cetakan menghadap ke bawah) di mulut periuk yang terbut dari tanah liat dan kemudian dikukus. Jadi sebelumnya periuk telah diisi dengan air. Proses mengukus kasoami ini biasanya berlangsung cepat sekitar 20 menit untuk satu kasoami.
Waktu melihat kami, ibu tua itu begitu kaget dan agak heran karena memang belum mengenali kami. Akhirnya dipanggillah salah seorang anaknya yang sedang berada di atas rumah karena ibu tersebut tidak fasih berbahasa Indonesia. Dia hanya fasih menggunakan bahasa Wakatobi. Bahasa Wakatobi ini berbeda dengan Bahasa Wolio yang dulunya merupakan bahasa nasional di Kesultanan Buton dimana daerah Wakatobi merupakan bagian di dalamnya. Belum ada informasi tentang darimana bahasa Wakatobi ini berasal. Setelah memperkenalkan diri siapa kami,menceritakan tujuan kami ke pulau ini dan alasan kenapa sampai memilih rumah mereka sebagai tempat tinggal akhirnya kami diajak masuk ke dalam rumah dan dipersilahkan untuk beristrahat sambil menunggu makan siang.
Setelah menyimpan tas kami di dalam rumah, saya menemui seorang anak ibu yang menerima kami tadi yang sedang membakar ikan. Dan saya begitu kaget saat melihat ikan yang dibakarnya adalah ikan buntal berduri (borutu: bahasa lokal) yang dikenal beracun. Tetapi menurut para penduduk ikan tersebut tidak beracun jika dibakar dengan benar yaitu sampai kulit kerasnya hangus menjadi arang. Malah rasanya sangatlah nikmat. Apalagi organ dalam ikan tersebut. Selain ikan buntal itu masih ada dua ekor ikan kakap segar yang biasanya di kota besar bisa mencapai puluhan ribu rupiah perekornya. Dari perempuan itu, saya tahu kalau ikan-ikan tersebut diambil dari serong (bagang tancap) milik keluarga. Tak lupa ikan-ikan itu disiapkan dengan sambalnya yang dalam bahasa lokal disebut dengan colo-colo. Saat kami makan siang, ikut disajikan ikan masak yang dari warna daging dan kulitnya memperlihatkan ikan-ikan tersebut adalah ikan karang. Jadilah kami bersantap siang dengan kasoami dan lauk yang mewah.

Tak Seindah Taman Lautnya
Saat ini Pulau Kaledupa hampir telah menjadi salah satu ikon Indonesia di bidang pariwisata. Namanya telah  menginternasional. Terkenal di berbagai Negara Eropa. Ditulis di berbagai katalog perjalanan pariwisata. Ini tidak lain karena adanya Pulau Hoga yang berhadapan dengan Pulau Kaledupa yang mana saat ini di sewa dan dikelola oleh salah satu NGO internasional, Operation Wallacea sebagai dive resort karena keindahan bawah lautnya yang luar biasa.Keindahan bawah laut itulah yang telah membawa banyak bule dari berbagai kelompok umur menyumbangkan dollar yang mereka punya bukan hanya di Pulau Hoga tetapi juga di Pulau Kaledupa.
Namun sayang, meski telah banyak pundi-pundi dollar yang masuk ke kas daerah, pembangunan di Pulau Kaledupa seperti berjalan di tempat. Sarana dan prasarana umum belum bisa dirasakan secara maksimal oleh masyarakat di dua kecamatan yang ada di pulau ini. Walaupun di pulau ini telah ada PLN-nya, namun beberapa desa belum dialiri listrik karena alasan jaraknya yang jauh dari sumber pembangkit. Sedangkan untuk desa-desa yang sudah teraliri, listrik hanya hidup dari pukul 18.00 sampai pukul 06.00. Jadi sepanjang siang masyarakat tidak bisa menyetrika, menonton,bermain komputer, berkaraoke dan pekerjaan lainnya yang membutuhkan listrik.
Kemudian jalan raya. Jalan raya di dua kecamatan di pulau kaledupa masih menampilkan wajah gado-gado. Ada yang masih berupa pengerasan, ada yang cukup lumayan mulus, lumayan berlubang dan ada yang aspalnya sudah hampir hilang, menyisakan batu-batu keras.
Selanjutnya air bersih. Disini belum ada PDAM. Jadi masyarkat mendapatkan air bersih dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mengambilnya dari sumur di sekitar rumah, ada yang mengambilnya dari mata air, ada yang mengambilnya melalui sistem perpipaan dan ada yang harus menyeberang laut untuk mendapatkan air bersih. Benar-benar beragam.

Sepi Pria
Di salah satu kesempatan perjalanan survey kami, kami mengunjungi salah satu perkampungan orang bajo. Nama kampung itu adalah Mantigola, terletak di desa Horuo.Seperti halnya kampung bajo lain, mata pencaharian utama penduduk di kampung ini adalah nelayan. Dan kedatangan kami kali ini bertepatan dengan “musim panen“ penduduk kampung dimana mereka sejak bulan Agustus hingga Desember berdiam di Karang Kaledupa untuk menangkap segala hasil laut. Makanya pada bulan-bulan ini Kampung Mantigola akan sepi pria karena kebanyakan mereka akan tinggal sementara di Karang Kaledupa. Untuk itu mereka membawa bekal yang banyak. Terkadang mereka juga memboyong seluruh anggota keluarga. Mereka hanya kembali ke daratan untuk menambah pasokan air dan makanan lainnya. Dan kegiatan “panen“ hasil laut ini mengundang banyak pedagang pengumpul yang berasal dari Wanci, Kendari, Bau-Bau bahkan para pengumpul dari Sinjai, Sulawesi Selatan. Bisa dibayangkan betapa ramainya kampung musiman di karang kaledupa ini. Sayang kami tak dapat ikut serta karena
sempitnya waktu kami.


Suasana  Kampung  Mantigola yang sepi pada Bulan Agustus – Desember setiap tahunnya

Jalan darat yang sedang dirintis dari Pulau Kaledupa ke Kampung Bajo Mantigola. Pondasinya memakai batu karang yang ditumpuk (***)

Dipublikasi di Jalan-Jalan | 11 Komentar

DOA

//dedyrahmat74.wordpress.comYa Allah, negeri ku akan menghadapi hajatan besar Pemilihan Anggota Legislatif. Untuk itu, aku memohonkan kepada-Mu untuk selalu memelihara kami, rakyat Indonesia dari segala marabahaya. Sadarkanlah mereka yang bodoh,  penakut dan mereka yang hanya coba-coba  untuk menjadi wakil kami. Cegah dan hukumlah mereka yang rakus, tamak, jahat, penjilat untuk menjadi wakil kami. Cegah dan hukumlah  mereka yang mau menjadi anggota legislatif  yang hanya bermaksud mencari kekayaan. Cegah dan hukumlah mereka yang memakai nama rakyat untuk kemudian hanya mengurus keluarganya saja. Cegah dan hukumlah mereka yang mengikuti hajatan ini hanya untuk mendapatkan kekuasaan semata-mata. Cegah dan hukumlah mereka yang memakai nama rakyat untuk hanya berfoya-foya. Cegah dan hukumlah mereka yang memakai dan rakyat untuk maksud pamer dan kesombongan.

Kami sudah cukup menderita. Kami sudah cukup kesulitan. Kami sudah cukup lunglai. Kami sudah cukup mengurut dada atas hidup kami. Bantulah kami ya Allah.

Ya Allah, kabulkanlah doa salah satu rakyat negeri ini. Amin

Gambar: dedyrahmat74.wordpress.com

Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar

Jalan-Jalan ke Ereke, Buton Utara

Tanggal 28 Januari kemarin, embun masih melekat di ujung daun ketika saya melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah menuju ke terminal Lapangan Temba yang merupakan terminal angkutan keluar Kota Baubau. Ikut bersama saya sebuah tas punggung berwarna hitam yang menggembung berisi beberapa lembar pakaian dan dokumen. Hari itu saya akan pergi menuju ke Kulisusu, ibukota sementara Kabupaten Buton Utara yang untuk keperluan dinas. Jaraknya 193 km dari Kota Baubau. Untuk itu saya sudah harus berada di terminal sebelum pukul 06.00 jika tidak ingin ditinggal pergi oleh angkutan.

Selain untuk keperluan dinas, perjalanan ini juga merupakan jawaban bagi rasa penasaran saya akan cerita, keadaan alam dan manusia-manusia yang mendiami daerah yang baru memekarkan diri Kabupaten Muna di Tahun 2007. Menurut sejarah, Kulisusu/Kolencusu/Kalingsusu merupakan salah satu dari empat benteng pertahanan Barata Patapalena (cadik penjaga keseimbangan perahu negara) di masa Kesultanan Buton. Barata Kulisusu bersama-sama dengan Barata Muna, Barata Tiworo dan Barata Kaledupa merupakan pintu-pintu pertama pertahanan sebelum musuh merengsek ke dalam wilayah pusat kekuasaan di Bau-Bau. Olehnya itu mereka memiliki peran yang cukup penting dalam menjaga keselamatan negara. Mereka juga diberi hak otonom untuk mengatur sendiri daerahnya termasuk memiliki tentara sendiri namun dengan batasan-batasan pengaturan yang sudah digariskan oleh pemerintahan pusat yang ada di Bau-Bau.

Tapi itu adalah cerita dimasa dahulu, di saat Kesultanan Buton belum mengintegrasikan diri ke dalam NKRI. Adapun cerita tentang Buton Utara saat ini adalah kisah tentang daerah yang tidak terurus karena dianaktirikan dalam pembangunan selama puluhan tahun. Akses ke daerah ini hanya terbuka melalui pintu-pintu laut padahal merupakan daratan yang tidak terputus dengan saudaranya di Kabupaten Buton. Jalanan beraspal mulus masih merupakan mimpi-mimpi yang belum terwujudkan selama bertahun-tahun. Aliran listrik masih menjadi kebutuhan yang sulit dipenuhi di sebagian besar daerah. Di ibukota kabupaten sendiri, listrik hanya mengalir pada pukul 18.00-06.00. Pintu komunikasi hanya terbuka melalui wartel satelit itupun dalam jumlah yang masih bisa dihitung dengan jari.

Cerita tentang Buton Utara saat ini adalah ironi sebuah kawasan yang kaya sumberdaya alam namun hampir tidak menolong kemajuan daerah. Buton Utara memiliki banyak potensi bahan tambang (aspal, minyak bumi, emas dan konon uranium), hasil hutan (jati, damar, dan rotan), hasil laut serta kawasan perkebunan yang subur namun juga memiliki 33,93% penduduk yang tidak punya pendidikan dan 32,79% yang hanya berpendidikan SD/MI.Penduduk yang sarjana hanyalah 1,67%

Cerita tentang Buton Utara adalah kisah tentang perlawanan masyarakat terhadap keterbelakangan. Diawali oleh kesadaran akan ketertinggalan daerah mereka, kemudian mencari akar permasalahan, akhirnya masyarakat bahu membahu menuntut pemekaran. Berhari-hari, bermingg-minggu bahkan berbulan-bulan mereka berdemonstrasi menuntut pemekaran daerah mereka dari Kabupaten Muna. Mereka melakukan demonstrasi secara marathon, mulai dari Kulisusu, pindah ke Muna dan kemudian di lanjutkan di Ibuko Propinsi, Kendari. Bahkan konon mereka siap-siap akan ke Jakarta jika tuntutan pemekaran belum terealisasikan setelah berdemo di Kendari. Untunglah pihak Jakarta cepat merespon dengan melakukan pemekaran sebelum mereka merealisasikan rencana ke Jakarta. Semua usaha itu dilakukan dengan inisiatif dan anggaran swadaya masyarakat sendiri (termasuk dari para warga Buton Utara yang hidup di luar daerah) karena adanya keengganan pemerintah meluluskan keinginan itu.

Untuk mencapai Kulisusu dari Kota Baubau kita harus melalui perjalanan darat ke mobil-terjebakKambowa, perbatasan Buton Utara dan Kabupaten Buton yang bisa ditempuh sampai dengan lima jam karena rusaknya jalanan. Bahkan di beberapa penggalan jalan, mobil harus berjalan merangkak karena lintasan berlumpur yang kalau tidak hati-hati ban kendaraan bisa terpeleset bahkan terjebak hanya bisa meraung-raung tak bisa bergerak maju atau mundur. Ironis memang. Karena kondisi ini terjadi di daerah yang dikenal sebagai salah satu penghasil aspal alam terbesar di Indonesia.

Angkutan Ke Buton UtaraSampai di Kambowa, perjalanan dilanjutkan dengan spit menuju Kulisusu selama ± 2 jam. Di Kulisusu, kenyataan akan masih tertinggalnya daerah ini sangat jelas terlihat. Di pusat kota, jalanan banyak yang berlubang, bahkan ada yang tidak beraspal sama sekali. Banyak rumah yang terlihat tua karena dindingnya yang retak-retak dan catnya yang sudah terkelupas. Listrik hanya bisa dinikmati mulai pukul 18.00 – 06.00. Itupun setiap dua hari sekali hanya bisa dinikmati mulai pukul 23.00. Pasar yang tersedia hanya satu. Itupun buka hanya sampai pukul 11.00. Untuk berkomunikasi, jangan berharap pada telepon genggam yang anda bawa karena di daerah ini tidak ada operator yang beroperasi. Alat komunikasi yang tersedia hanyalah wartel satelit itupun dalam jumlah yang masih bisa dihitung dengan jari. Jadi selama berada di Kulisusu, dunia kita adalah orang-orang di sekeliling kita. Lupakan sejenak teman-teman dan keluarga yang berada jauh.

Kemarin setelah mekar, harapan akan kemajuan itu terbit seiring dengan adanya pejabat bupati yang memiliki darah pribumi yang memungkinkan masyarakt Buton Utara untuk menata sendiri daerah mereka. Namun harapan itu pupus seiring dengan banyaknya indikasi penyimpangan dari pejabat bupati tersebut. Akhirnya mereka kembali berdemo, menuntut digantinya pejabat bupati. Dan saat kami tiba, pejabat bupati yang baru telah menjabat dan akan mengadakan ramah tamah dengan semua warga Kulisusu bertempat di rumah salah seorang saudaranya sebab rumah jabatan bupati sedang direnovasi. Untuk kesekian kalinya, Warga Buton Utara menata mimpi-mimpi baru.

Dipublikasi di Jalan-Jalan | 61 Komentar

Bule dan Kemajuan Peradaban Kita

Semalam saya mendapat sebuah hadiah yang cukup menarik dari seorang abang sekaligus teman, Yusran Darmawan. Dia memberikanku sebuah buku berjudul “Orang Bajo” yang ditulis oleh seorang bule Perancis bernama Francois-Robert Zacot (Mr Francois). Saya belum membaca semua isi buku tersebut sebab masih ada buku lain yang sedang saya tuntaskan. Saya baru membaca sampul dan Prakata buku tersebut. Tetapi dari sampul dan prakatanya telah cukup alasan bagi saya untuk mengatakan buku tersebut cukup menarik. Warna sampulnya biru dengan tulisan besar “ORANG BAJO” di bahagian atas. Gambar sampulnya adalah dua orang anak kecil yang tampaknya sedang berusaha menangkap ikan.

Kemudian dari pengantarnya, disebutkan bahwa buku “Orang Bajo” merupakan karya yang lahir dari perjumpaan penulis dengan suku Bajo di Pulau Nain (Sebelah Utara Manado) dan Desa Torosiaje (Gorontalo) yang dimulai sejak 30 tahun lalu yakni di tahun 1978 saat penulis melakukan penilitian tentang etnografis. Buku ini pertama kali terbit di tahun 2002 dalam versi Perancis dengan judul Peuple nomade de la mer. Les Badjos d’Indonesie. https://musafirtimur.wordpress.com/2009/01/25/bule-dan-kemajuan-peradaban-indonesia/

Saya tidak ingin menulis tentang isi buku tersebut sebab saya belum menuntaskannya. Yang ingin saya tuliskan disini adalah kekaguman saya kepada penulis buku ini. Di pengantar disebutkan alasan penulisan buku (yang membuat saya kagum) adalah sebagai jawaban, sebagai hadiah, sebagai imbalan, sebagai ungkapan terima kasih penulis kepada masyarakat Bajo (khususnya di tempat penelitian penulis) atas keterbukaan dan bantuan yang diberikan mereka selama penulis melakukan penelitiannya selama bertahun-tahun di kelompok masyarakat Bajo. Dengan menuliskan kisah kehidupannya di tengah-tengah masyarakat Bajo, penulis berharap dapat ikut melestarikan budaya bajo dan ingatan orang bajo dapat terwariskan. Saya membandingkan dengan diriku yang telah beberapa kali mendapat bantuan dari kelompok masyarakat untuk melaksanakan suatu penelitian/melaksanakan suatu pekerjaan tanpa memberikan imbalan yang berarti sebagaimana halnya buku “Orang Bajo” tersebut. Saya dengan begitu egoisnya hanya menuliskan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya di dalam laporan pekerjaan kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan tanpa memikirkan apa imbalan terbaik bagi kehidupan pihak-pihak yang telah membantu tersebut.

Bagi saya, apa yang sudah dilakukan oleh Mr Francois ini merupakan salah satu dari sekian sumbangan manis yang diberikan oleh orang-orang barat kepada negeri kita tercinta, Indonesia, disamping sumbangan pahit berupa penjajahan dan pengangkangan negeri selama ratusan tahun. Semenjak dahulu orang-orang barat telah melanglang buana di seantero negeri Indonesia untuk mencatat, menginventarisir dan memetakan banyak hal di negeri Indonesia dengan berbagai tujuan dan motivasi. Mereka merelakan tubuhnya disergap dinginnya malam dan mencekamnya hutan rimba untuk menginventarisir berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang hidup di rimba-rimba Indonesia. Mereka rela untuk diombang-ambingkan ganasnya gelombang barat dan timur di perairan-perairan Indonesia untuk bisa menjangkau pulau-pulau untuk kemudian menginventarisir semua yang ada di darat dan lautnya. Mereka dengan berani memetakan wilayah Indonesia beserta kelompok-kelompok manusia yang menghuninya, lengkap dengan adat istiadat yang mereka miliki meski kadangkala harus berhadapan dengan berbagai macam ancaman. Terlepas dari motivasi dan tujuan yang barangkali buruk buat kita, apa yang sudah mereka lakukan tersebut telah membantu kita untuk saling mengenali antar anak bangsa dan mengenali lingkungan kita.

Untuk masa sekarang ini, terkadang saya tidak habis pikir, di saat kita mati-matian bekerja mengumpulkan uang banyak untuk bisa berleha-leha termasuk mengunjungi luar negeri, masih ada saja sebahagian orang-orang barat yang memilih berpetualang meninggalkan segala kemudahan dan kemewahan yang mereka miliki di negara asalnya untuk kemudian bekerja dan memikirkan kemajuan negeri-negeri lain. Di kotaku sendiri, Baubau, saya memiliki dua orang kenalan bule dengan sumbangan dan cita-cita yang manusiawi. Yang pertama adalah seorang yang bernama Gertjees, seorang perempuan Belanda berumur kira-kira 40 tahunan. Meski orang Belanda, tetapi dia memiliki komitmen dan usaha untuk mencerdaskan kehiduan bangsa. Itu tercermin dari usahanya menguliahkan beberapa anak dari Suku Bajo ke pendidikan keguruan di kotaku dan membelikan mereka rumah sebagai asrama selama kuliah. Hebatnya lagi, rumah yang dibelikan itu dilengkapi dengan perpustakaan dan komputer. Untuk membiayai itu semua, dia membuka usaha resort selam dan penginapan kecil-kecilan di Pulau Hoga, Kaledupa.

Kenalan lainku adalah Belinda, seorang bule cewe berumur kira-kira 20 tahunan yang berasal dari Australia. Berbeda dengan Geertjes yang membuka usaha resort selam, dia merupakan salah satu dari sekian volunteer Global Partner yang ditugaskan di Kota Baubau untuk mengajar menyelam dan bahasa inggris. Alasan dia mau bergabung dengan Global Partner adalah karena dia ditawari untuk membantu masyarakat dan pemerintah Kota Baubau dengan skill yang dia mliki untuk mempersiapkan Kota Baubau sebagai daerah tujuan wisata. Yang membuatku salut adalah cita-cita individualnya yakni ingin membantu pemerintah dan masyarakat Kota Baubau mengelola potensi wisatanya dengan kekuatan lokal yang mereka milki karena jika dikelola oleh orang dari luar negeri (orang barat) maka hasilnya akan dibawa ke negara lain. Dia juga ingin Baubau tumbuh sebagai kota wisata dengan cita rasanya sendiri dan tidak meniru kehidupan Bali yang menurut dia sudah carut marut. Cita-cita yang sungguh mulia menurutku. Cita-cita yang membuatku malu melihat wajah sebahagian anak negeri yang sibuk mencari jalan instan menjadi pegawai negeri, mengumbar janji dan berebut kekuasaan untuk kemudian merampok hak-hak anak negeri lainnya.

Baubau, 24 Januari 2009

Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar

Kecewa pada Maryamah

Sampul buku maryamah karpov

Masa panjang penantianku terhadap karya terakhir Andrea Hirata, “Maryamah Karpov” berakhir kecewa setelah sebelumnya saya begitu bersuka cita saat menemukan buku tersebut hadir di Gramedia Kendari, 14 Desember lalu. Novel tersebut telah saya nantikan sejak saya menuntaskan “Edensor” ( November 2007) karena merupakan kelanjutan petualangan si ikal menemukan diri, teman-teman dan cinta yang telah membuatnya melintasi separuh dunia. Disamping itu, ada rasa dahaga yang kuat atas kisah dan kata yang disuguhkan Andrea Hirata yang penuh dengan aroma Melayu, jenaka, “kampungan”, kejutan, romantik dan kisah-kisah yang mengharu biru.

Memang aroma itu masih mengepul dengan hangat di sepanjang kisah pamungkas ini. Tetapi wanginya harus tunduk pada banyak gangguan yang hadir di sepanjang cerita. Saat berada di kampung halaman, Si Ikal telah berevolusi menjadi sosok yang sombong dan kerap merendahkan pihak lain. Meski orang melayu kerap memberi alias yang buruk, kenapa mesti bagian itu yang dipentaskan dengan durasi waktu yang lama.Akhirnya komedi yang dituturkannya banyak yang garing karena berisi hinaan, cercaan dan upaya merendahkan. Pertemuan dengan teman-teman “Laskar Pelangi” yang dirinduinya hanya lewat begitu saja sebagai bagian yang tidak penting padahal mereka pernah dikisahkan lengkap dalam sebuah novel. Perjumpaannya dengan A Ling yang telah lama dicarinya pun hambar. Jenaka tidak, romantis tidak, mengharu biru pun tidak. Di sepanjang kisah ikal mulai dari rencananya membuat kapal hingga pelayarannya menemukan A Ling saya seperti dipaksa menelan pil kina. Pahit tapi harus tetap ditelan. Penuh dengan kisah yang tidak menjejak bumi dan menggurui. Begitu juga saat saya mencari nama Maryamah Karpov yang merupakan judul novel ternyata hanyalah nama seorang figuran yang disisipkan tanpa kaitan apa-apa dengan kisah di dalam novel. Bagusnya sih dikasih judul “A Ling” karena ruh itu yang begitu kuat menginspirasi kisah. Sub judul “Mimpi-Mimpi Lintang pun berceceran entah dimana. Wadduh!!!

Dipublikasi di Opini | Meninggalkan komentar